TKI Ilegal

Kesempatan Kerja, luar negeri Agustus 23rd, 2010

Siapa toh yang ingin hidup susah ? . Saya yakin tidak ada orang yang hhh1menginginkan nasibnya menjadi orang susah . Sama halnya dengan calon TKI , mereka juga tidak menginginkan hidup susah , tidak menginginkan menjadi TKI ilegal nantinya di luar negeri . Tapi kenapa pada kenyataanya jumlah TKI ilegal bukannya berkurang tapi malah sebaliknya ? apakah mereka calon TKI yang menginginkan hal itu ? Lantas kenapa semuanya bisa terjadi ?

Kalau gambaran TKI resmi saja adalah sebuah momok yang menakutkan , tentu saja nasib TKI ilegal lebih mengerikan . Posisi TKI ilegal terlepas dari segala peraturan dan ketentuan yang berlaku . Mereka tanpa mengantongi asuransi , jaminan sosial tenaga kerja ( jamsostek ) , standar gaji yang telah di tentukan , perlindungan ketenaga kerjaan dan lain sebagainya . Karena terlepas dari itu semua , dari pihak perusahaan atau majikan pemakai tenaga ilegal ini bisa saja seenaknya memperlakukan mereka , contoh saja menerapkan gaji jauh di bawah upah minimum , memberikan jam kerja yang terlalu berlebihan dengan nilai lembur yang tidak sepadan , mengurangi segala fasilitas yang seharusnya menjadi hak TKI , perlakuan kasar dan masih banyak lagi .

Menanggapi perlakuan yang demikian , TKI ilegal tidak bisa berbuat apa apa selain pindah kerjaan dan pindah . Mereka TKI ilegal tidak terikat kontrak kerja dengan perusahaan atau majikannya , semua peraturan merupakan ketentuan dari pihak majikan , sepenuhnya wewenang majikan . TKI ilegal tidak berhak menuntut apa yang menjadi haknya , kalaupun saja mereka menuntutnya tentu dengan resiko ” akan di panggilkan polisi imigrasi ” dan dampaknya adalah pulang ke negara asal . Dengan ancaman yang seperi ini , sering terjadinya penunggakan gaji dan penganiayaan yang sudah lazim kita dengar . Jikalau TKI ilegal tidak menghendaki hal yang demikian terjadi , maka solusinya adalah pindah kerjaan atau kabur .Kalau mereka keluar atau kabur setelah menerima gajinya secara utuh masih mendingan , bagaimana kalau sebagian gaji atau bahkan semua gaji belum di bayarkan ? Pada hal mayoritas TKI ilegal untuk mendapatkan sebuah pekerjaan tidak jarang harus mengeluarkan uang guna membayar jasa orang yang mencarikan pekerjaan , dan itu jumlahnya tidak sedikit . Bagaimana kalau seperti ini terjadi secara terus menerus ? jawabanya, TKI ilegal ini tidak bisa mengantongi uang .

Read the rest of this entry »

Hemat itu pelit ?

Ekonomi, Renungan Agustus 18th, 2010

Secara pemikiran logika , mungkin definisi hemat hampir identik dengan pelit , hanya ho1saja apakah bisa di katakan sama ? . Otak pentium 2 saya ini mengatakan bahwa hemat tidak bisa di samakan dengan pelit , meskipun juga hemat itu saudara dekatnya pelit . Hemat berdasarkan pentium 2 saya adalah suatu tindakan cermat dalam mengatur pengeluaran tanpa mengurangi apa apa yang telah menjadi kebutuhan sehari hari , hanya dengan lebih menekan keinginan yang sifatnya dapat di kurangi . Hemat di sini memanfaatkan segala pengeluaran dengan tepat , benar benar manfaat dan bukan harus menghindar kalau saja ada seseorang yang memerlukan pertolongan kita , jelas tentu bisa membedakan yang mana kebutuhan yang mana keinginan . Sedangkan definisi pelit adalah menekan dan mengurangi segala apa yang menjadi kebutuhan , meminimalisir keinginan , tidak mau tahu dengan keadaan sekitar yang tidak memberi keuntungan pada diri sendiri .

Benarkah suatu tindakan hemat ujung ujungnya adalah pelit , kikir ? Anggaran pengeluaran lebih sedikit dari pada umumnya adalah sifat pelit ? Seperti biasa kalau suatu hal yang tidak sesuai dengan prinsip , saya pasti ngotot , memberi argument yang bisa saya jelaskan meskipun seadanya . Saya paham betul kemampuan otak saya masih pentium 2 , tapi dari pada hanya menjadi grunekan kan lebih baik di sampaikan , soal di terima apa tidaknya itu terserah pembaca dan pendengar , toh saya juga bukan menganggap bahwa prinsip saya itu yang paling benar . Ketika saya pada posisi hemat tapi di katakan pelit , rasa rasanya hati saya kok dongkol . Apa hanya karena anggaran pengeluaran lebih sedikit terus bisa di katakan pelit ?, saya tidak habis pikir apakah selama ini saya acuh terhadap kebutuhan dan enggan memberi pertolongan yang di perlukan . Anggaran bulanan lebih sedikit bukan berarti lepas dari berbagi , bagaimana dengan jumlah anggaran yang begitu besar tapi tak sepeserpun berbagi dengan sekitarnya , dan anggaran itu hanya untuk kebutuhan sendiri .

Rasa rasanya topik seperti ini kurang etis kalau diperdebatkan lebih lanjut , atau mungkin lebih baik jadi bahan koreksi diri sendiri apakah benar kita ini termasuk kategori pelit atau hemat . Bagus tidaknya kualitas kita dalam kehidupan sehari hari bukan kita yang menilai , tapi orang lain dan merekalah cerminnya . Saya yakin setiap orang memiliki prinsip masing masing dan tidak aneh juga kalau prinsip itu memiliki perbedaan di tiap perorangan , tapi bukan berarti orang lain berbeda prinsip dengan kita terus kita bisa mengatakan bahwa orang itu salah. Bukan masalah dia yang salah dan kita yang paling benar , hanya saja perbedaan prinsip . Saya juga yakin dan menyadari bahwa setiap orang mayoritas menganggap dirinyalah yang paling benar , itupun karena prinsip .Dan yang perlu di ketahui , orang memilih tidak berprinsip , itupun juga prinsip. Mungkin dari perbedaan prinsip inilah yang mengakibatkan perbedaan definisi hemat dan pelit , hemat itu yang seperti apa dan pelit itu seperti apa , atau bahkan hemat berpeluang besar menjadi pelit , itu juga bisa .

Apa perlu redenominasi ?

Ekonomi Agustus 7th, 2010

Redenominasi , terus terang saja lidah saya serasa blepotan membaca us1istilah ini , maklum orang awam seperti saya kurang begitu paham dengan istilah istilah di bidang perekonomian ini. Untuk membacanya saya harus pelan pelan dan mengejanya per suku kata re de no mi na si , kalau saya paksakan membacanya secara cepat yang terjadi malah redominasi , suku kata ne raib di telan lidah awam saya . Seperti yang di beritakan di berbagai media kemaren , istilah redenominasi hanya istilah penyederhanaan dan penyetaraan nilai mata uang . Kelihatannya seperti sederhana hanya saja kebijakan BI ini menuai banyak kontroversi , masalahnya, apa Indonesia sudah cukup siap untuk melakukan kebijakan ini ? Entahlah .

Bagi saya yang terlalu awam soal seperti ini memang kurang begitu mengerti bagaimana dampak dari redenominasi ini , yang penting dapur masih bisa berkepul berarti aman, asalkan kepulanya bukan karena ledakan tabung gas 3 kg , itu lain cerita lagi . Selagi kebijakan itu tidak mempengaruhi nilai uang itu sendiri saya tidak terlalu mempermasalahkanya , contoh saja harga kaos yang sebelumnya 50 ribu menjadi 50 rupiah , mie instan dari 1000 menjadi 1 rupiah , gaji 1 juta menjadi 1000 , harga motor 15 juta menjadi 15 ribu, nah apanya yang harus di permasalahkan ? Lagi pula harga harga juga menyesuaikan berdasarkan perubahan tersebut , bukan tetap pada semula seperti yang pernah terjadi pada tahun 1950 an. Meskipun uang tersebut nilai nominalnya sedikit tetapi nilai itu memiliki arti. Permasalahanya , kalau seperti itu apa bedanya sebelum adanya redenominasi dan setelahnya ? Kalau memang semua berjalan seperti itu kenapa harus mengeluarkan banyak dana untuk mencanangkan kebijakan tersebut ? Nah,… apa perlu adanya redenominasi,…? apa masyarakat kita sudah cukup siap menerima itu semua ?

Kalau di telaah lebih lanjut , memang dengan adanya penyederhanaan nilai mata uang ini akan berdampak bagi perekonomian Indonesia dan sifatnya jangka panjang. Di mata dunia international , dengan melihat nilai nominal uang kita yang ringkas ( tinggi ) akan menambah kepercayaan mereka terhadap rupiah . Contoh saja, nilai tukar terhadap US dollar 1 : 9000 dengan 1 : 9 , di mata dunia international perbandingan 1 : 9 lebih meyakinkan, secara tidak langsung mereka mulai memiliki pandangan berbeda mengenai rupiah , permintaan terhadap rupiah juga tentunya meningkat . Sedangkan dampak dari meningkatnya permintaan terhadap rupiah kita telah mengetahuinya , nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing lain akan tinggi , termasuk terhadap US dollar sekalipun . Tapi tentunya upaya seperti ini juga tidak mudah dan cepat, semua harus melaui tahapan dan proses masing masing. Kalau di Korea Utara menerapkan sistem seperti ini belum menunjukkan hasil , bukan berarti di Indonesia akan sama. Di korea Utara sistem ini baru berjalan 1 tahun , belum 10 tahun , belum 15 tahun , dan pertumbuhan ekonomi Korea Utara saat itu tidak sebagus pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sekarang ini. Kalau 1 tahun terlalu cepat malahan untuk menunjukkan hasil , untuk wira usaha saja memerlukan waktu kurang lebih 5 sampai 6 tahun untuk bisa menunjukkan hasil maksimal . Dampak dari redenominasi ini sifatnya jangka panjang , di tambah lagi dukungan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekarang ini yang sedang meningkat , akan semakin meyakinkan dunia international .

Read the rest of this entry »

Nasib TKI

Ekonomi, luar negeri Agustus 2nd, 2010

Saya sendiri kurangmengerti apa alasan mereka terlalu ” dscn00271memandang sebelah mata ” TKI . Seringnya saya menjumpai pembicaraan yang mengesankan bahwa dengan menjadi TKI adalah lahan penganiayaan , pekerjaan terpaksa bagi orang berpendidikan rendahan , buruh bawahan penggadai keluarga , pelampiasan orang orang yang prustasi dengan malasnya mencari pekerjaan di negeri sendiri , dan masih banyak lagi. Bahkan saya sendiri pernah terlibat langsung dalam pembicaraan mengenai topik TKI , diantaranya ada yang mengatakan ” gak kapok kapoknya para TKW di siksa di sana , di perkosa , di gaji apa adanya . Masih ada saja yang mau kerja di luar negeri, kayak gak ada kerjaan di negeri Indonesia tercinta ini , di Indonesia masih banyak kerjaan melimpah, malasnya mereka aja nyari pekerjaan. Maunya pendidikan pas pas an minta gaji melimpah ” . Dari awal pembicaraan saya hanya menyaring setiap perkataan mereka , tapi rasa rasanya terlalu pengecut bagi saya kalau hanya diam saja , toh saya mantan TKI waktu itu, hanya saja mereka belum mengetahuinya . Saya hanya angkat sedikit kata saja ” Apa sampeyan siap memberikan pekerjaan untuk mereka ? , gak usah gaji yang banyak lah , cukup UMR saja udah cukup. Gak usah banyak banyak dari mereka yang sampeyan tampung, cukup 2 saja apa sampeyan sanggup ? itu paling tidak mengurangi jumlah mereka. kita belum cukup tau seberapa besar kebutuhan mereka . Aku rasa kita boleh tidak suka , tapi kalau bisa gak usah pakai menghina , toh mereka gak merugikan kita kan ? ” .Sampai akhir pembicaraan mereka memang tidak tau kalau saya pernah masuk di dunia TKI tersebut.

Read the rest of this entry »