Nasib TKI

Ekonomi, luar negeri Agustus 2nd, 2010

Saya sendiri kurang mengerti apa alasan mereka terlalu  ” dscn00271memandang sebelah mata ” TKI . Seringnya saya menjumpai pembicaraan yang  mengesankan bahwa dengan menjadi TKI adalah lahan penganiayaan , pekerjaan terpaksa bagi orang berpendidikan rendahan , buruh bawahan penggadai keluarga , pelampiasan orang orang yang prustasi dengan malasnya mencari pekerjaan di negeri sendiri , dan masih banyak lagi. Bahkan saya sendiri pernah terlibat langsung dalam pembicaraan mengenai topik TKI , diantaranya ada yang mengatakan ” gak kapok kapoknya para TKW di siksa di sana , di perkosa , di gaji apa adanya . Masih ada saja yang mau kerja di luar negeri, kayak gak ada kerjaan di negeri Indonesia tercinta ini , di Indonesia masih banyak kerjaan melimpah, malasnya mereka aja nyari pekerjaan. Maunya pendidikan pas pas an minta gaji melimpah ” . Dari awal pembicaraan saya hanya menyaring setiap perkataan mereka , tapi rasa rasanya terlalu pengecut bagi saya kalau hanya diam saja , toh saya mantan TKI waktu itu, hanya saja mereka belum mengetahuinya . Saya hanya angkat sedikit kata saja ” Apa sampeyan siap memberikan pekerjaan untuk mereka ? , gak usah gaji yang banyak lah , cukup UMR saja udah cukup. Gak usah banyak banyak dari mereka yang sampeyan tampung, cukup 2 saja apa sampeyan sanggup ? itu paling tidak mengurangi jumlah mereka. kita belum cukup tau seberapa besar kebutuhan mereka . Aku rasa kita boleh tidak suka , tapi kalau bisa gak usah pakai menghina , toh mereka gak merugikan kita kan ? ” .Sampai akhir pembicaraan mereka memang tidak tau kalau saya pernah masuk di dunia TKI tersebut.

Sejauh ini yang kita tau memang mayoritas dari TKI berpendidikan rendah , tetapi kalau menurut penilaian saya pribadi di manapun ada sinyal kehidupan , ukuran prestasi berbentuk piramida. Tidak hanya di luar negeri ( TKI ) , di negeri sendiripun saya yakin betul bahwa jumlah penduduk yang berpendidikan rendah lebih banyak ketimbang yang sukses pendidikannya, sampeyan sampeyan pasti tau alasannya kenapa. Atau mungkin dari sisi agama , bahwa di luar negeri lebih rawan renggang dari kewajiban kewajiban agama , satu hal lagi yang perlu di catat, bukan tidak mungkin di negeri sendiri juga seperti itu. Tidak usah jauh jauh sampai keluar kota , jauh dari keluarga sedikit saja saya yakin kualitasnya sudah berbeda meskipun kita berpatokan ” tergantung orangnya masing masing “.Ada banyak alasan yang mungkin kita belum mengerti  kenapa mereka CTKI bertekad kerja di luar negeri dan saya sendiri juga tidak pernah melakukan survei atau penelitian tentang hal itu. Apalagi saya yang hanya bekerja sebagai buruh bawahan setiap harinya, pemerintah saja tidak cukup sanggup mengatasi masalah CTKI ini, entah apa kegiatan pemerintah selama ini.

Kalau dari penilaian saya pribadi , saya akui jempol untuk mereka TKI , terutama dari sisi mental mereka. Sebelum menginjakkan kaki di luar negeri,mereka tau benar bahwa di sana nanti mereka tanpa kerabat atau keluarga , adaptasi dengan lingkungan yang jelas jelas berbeda kebudayaanya , kurangnya kepenguasaan bahasa setempat , dan satu hal lagi yang terpenting , mereka tau betul bahwa pekerjaan yang akan di jalani nantinya pasti buruh bawahan. Karena suatu hal yang tidak mungkin seorang TKI akan menduduki posisi yang lebih tinggi dari pekerja lokal . Alasan kenapa perusahaan merekrut tenaga asing tak lain adalah karena posisi yang akan di tawarkan tersebut tidak di minati oleh tenaga lokal negara itu. Sudah jelas tentu TKI akan mengantongi jabatan 3D , jabatan yang sangat di jauhi pekerja lokal . 3D itu sendiri meliputi ” Difficult ( susah ) , Dangerous ( berbahaya ) , dan Dirty ( kotor ).

Meskipun gambaran seperti di atas sebuah momok yang menakutkan , mereka TKI tetap menjalaninya. Kita mungkin tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan mereka selama di negeri orang. Mereka merelakan berpisah dengan keluarga dalam kurun waktu yang begitu lamanya , membendung rindu bertahun tahun lamanya. Kurangnya kepenguasaan bahasa juga sebagai penghambat komunikasi , padahal komunikasi itu sendiri merupakan jembatan hati satu sama lainya, mereka tetap bertekad menjalaninya karena mereka yakin seiring waktu mereka pasti bisa. Tanpa adanya kerabat saudara, mereka tidak tau kepada siapa meminta pertolongan kalau saja musibah menimpa, mereka di tuntut harus bisa menyelesaikan masalah yang di hadapi secara perorangan, cepat tepat sassran. Kemandirian mental merupakan modal pokok bagi mereka.

Saya menuliskan seperti ini bukan lantas karena saya adalah seorang TKI atau membela diri saya sensiri , tulisan yang saya sampaikan di sini mewakili dari ungkapan ungkapan mereka orang warga negara tujuan. Mereka sangat salut terhadap nyali orang TKI , tekad mereka untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Mungkin nyali yang seperti ini belum tantu di miliki pejabat pejabat kita yang sampeyan sampeyan sudah tau bagaimana aktifitas mereka selama ini. Rasa cinta terhadap bangsa sendiri lebih kentara selama menjadi TKI , apa rasa ini sudah cukup di miliki para pejabat kita ?

Sampai detik ini sudah 6 tahun saya menjalani sebagai TKI , dan apa yang saya rasakan selama ini jauh di luar perkiraan mereka yang  “memandang sebelah mata”  kami ( TKI ) . Di manapun masalah pasti ada , tapi tidak seperti apa yang mereka katakan sampai sebegitu mengerikan. Kalaupun ada perselisihan itu suatu hal yang wajar, tapi tidak sampai berkelanjutan. Terus terang saja , perlakuan warga lokal terhadap saya selama ini, baiknya justru melebihi perlakuan di negeri sendiri, bukannya saya membela warga sini tapi itu memang fakta yang saya alami selama ini.

Semoga tulisan saya ini dapat mengurangi penilain buruk terhadap TKI selama ini , mereka tidak hanya sebagai pahlawan devisa saja , masih banyak hal lain dari mereka.


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
  • Facebook
  • TwitThis
  • MySpace
  • Google
  • del.icio.us




10 Comments to “Nasib TKI”

  1.   an9el | Agustus 2nd, 2010 at 16:27

    hudaaaa…tulisanmu begitu menyentuh :( i like this

    jadi bingung mau nulis apa lagi :D cz semua udah dibahas secara detail dan tuntas

    keep blogging yaaa

    Kh>>> hanya unek unek aja ,.. pusing kalau g d utarakan ,… Semoga saja tetep keep blogging :)

    [Reply]

  2.   mt | Agustus 3rd, 2010 at 11:52

    TKI itu tak pantas dicerca. yang pantas dicerca adalah pemerintah yang sering kelupaan membela para TKI kita

    Kh>>> setuju bgt itu kang :)

    [Reply]

  3.   enjoy | Agustus 3rd, 2010 at 15:25

    tulisan yg bagus….

    Kh>>> hanya unek2 saja gan,… :) ma kasih

    [Reply]

  4.   alamendah | Agustus 3rd, 2010 at 23:26

    (Maaf) izin mengamankan KEEMPAX dulu. Boleh, kan?!
    Mungkin juga lantaran media kita sering mengekspose yang jelek2 saja. Kurang berimbang dalam pemberitaan

    Kh>>> dan sifat media hanya mengekspose hal2 yg heboh saja , kalau g gitu bukan berita ” HOT ” .

    [Reply]

  5.   tsefull | Agustus 4th, 2010 at 16:04

    TKI padahal lumbung devisa negara,tapi sering terabaikan oleh pemerintah….

    Kh>>> dan lebih payahnya kalau masyarakatnya kena imbasnya,… :)

    [Reply]

  6.   uni | Agustus 4th, 2010 at 19:28

    sesama manusia ga boleh saling meremehkan, apapun pekerjaannya ^_^, btw mg sukses ya sahabat di negeri orang. sebenernya dimana pun kita berada selalu saja ada orang baik dan orang yg ga baik, mau itu di negeri sendiri ato di negeri orang :)

    KH>>> Terima kasih,… :)

    [Reply]

  7.   kecoadisko | Agustus 5th, 2010 at 14:16

    menjadi TKI padahal pekerjaan halal, tapi kadang di pandang sebelah mata….
    tapi di kampungku banyak yang jadi TKI sukses2 kok….malah lebih kaya dari yang kerja kantoran..

    Kh>>> terima kasih atas pengertiannya,… tp tetap saja harga mati sebuah kesuksesan bukanlah kekayaan kan,… ? :)

    [Reply]

  8.   mimie | Agustus 5th, 2010 at 21:50

    jempol untuk tulisanmu….^_^

    Kh>>> oalllllah mbak mimie,… bs nyasar d blog yg ini juga toh,… ? huaaa aaa makasih mbak mimie, hanya unek2 aja kok :)

    [Reply]

  9.   anny | Agustus 7th, 2010 at 09:45

    Apa yang Huda tulis saya 100% setuju, saya saat ini bekerja di kantor agen penyalur TKI dan sedikit banyak saya tahu seluk beluk mereka dan mereka tentunya tidak melulu bisa dipandang sebelah mata, mereka kebanyakan orang desa yang rata rata lulusan SD bahkan SD pun banyak yg tdk lulus namun mereka mampu mengikuti training belajar bahasa , tata graha, tata boga dan budaya negara yang dituju, belum lagi mereka nanti di luar negeri musti adaptasi dan mandiri betul2, hal ini bukanlah perkara mudah perlu mental berkualitas dan kebijakan dlm bersikap, so TKI is very amazing dan tak patut dipandang sebelah mata, kalo ada yg mandang sebelah mata itu orang musti ngaca :D

    Kh>>> iya mbak,… dan semoga saja tulisan kita ini dapat mengurangi penilaian2 bagi mereka yg memandang sebelaha mata :)

    [Reply]

  10.   dian | Agustus 9th, 2010 at 14:12

    Mas Huda, saya berkenalan dengan banyak TKI di Dubai beberapa waktu lalu. Luar biasa sekali perjuangan mereka demi masa depan keluarga yang lebih baik. Acung jempol untuk mereka yang berani menyeberang dan mengadu nasib.
    Sebenarnya PR terbesar ada di pemerintah. Kalau tidak bisa menjamin keamanan warganya yang bekerja di luar, mampu tidak menyediakan lahan pekerjaan yang layak untuk warganya bekerja di negeri sendiri.
    Salam

    Kh>>> iya mbak bener sekali ,….

    [Reply]

Leave a Comment