Sisi lain korea selatan

10 May 2011

” Etos kerja orang Jepang adalah 5 kali lipat dari etos kerja orang Indonesia , sedangkan etos kerja penduduk Korea Selatan adalah 3 kali lipat dari etos kerja penduduk Jepang . Kesimpulanya , untuk bisa seperti Korea Selatan yang sekarang ini , penduduk Indonesia mesti meningkatkan etos kerjanya 15 kali lipat dari etos kerja saat ini ” . Kurang lebih seperti itu kata teman saya , secara pastinya saya sendiri masih belum yakin . Salah satu stasiun televisi swasta Indonesia juga pernah memberitakan bahwa Korea Selatan merupakan negara tercanggih kedua di bidang teknologi dan sarana informatika . Tidak hanya itu , saya juga pernah membaca di berita online yang menuliskan bahwa pendapatan perkapita penduduk korea selatan adalah kisaran 30 juta rupiah perbulanya . Ironisnya , di negeri yang penuh prestasi seperti itu masih banyak juga adanya pemandangan pengemis dan gelandangan .

Sedikit berbeda dengan pengemis dan gelandangan di Indonesia . Di Indonesia mereka ada mungkin karena memang minimnya lapangan pekerjaan dan itu sebagai ” pekerjaan ” . Pakaian yang di kenakan kucel dan kotor . Merata disegala umur , dari anak anak hingga manula . Keberadaanya selalu di kejar kejar petugas satpol PP . Sementara di sini di Korea Selatan mereka ada karena malasnya mereka bekerja , bahkan tidak jarang mereka ” ngetamp ” di tempat selebaran lowongan kerja . Pakaian ? bersepatu , lumayan rapi , sesekali berkacamata hitam . Tidak jarang bermodalkan alat musik untuk sekedar menghibur ” pengiba ” . Selama di sini saya belum pernah menemukan pengemis dan gelandangan berusia muda atau anak anak . Semua dari yang saya temui , mereka adalah berusia lanjut . Di manapaun mereka berada , mereka tanpa ada rasa takut di jaring petugas ketertiban . Hanya saja di beberapa tempat keramaian ada tulisan himbauan untuk tidak memberi uang kepada mereka .

Saya sendiri punya penilaian kurang mengenakkan terhadap pengemis dan gelandangan di sini . Sudah 2 kali saya memergoki pengemis yang paginya mengemis dan malamnya mabuk mabukkan . Bahkan pada pengalaman pertama saya langsung kena batunya . Kepala saya pernah di pukuli seorang pemabuk tua di pinggiran toko . Dengan nada ” sok pinter ” dia bercerita jalan jalan sukses pengusaha Korea Selatan . Berlagak seperti pahlawan ia katakan kalau kami ( tenaga kerja asing ) mesti berterima kasih kepadanya karena mengurangi angka kemiskinan di negara kami . Anehnya , minggu paginya ia mengemis di stasiun kereta bawah tanah . Saya ingat betul wajah itu , dan tidak akan melupakanya .

Pengalaman kedua di stasiun yang berbeda . Baru pagi harinya memberi seadanya kepada pengemis , sore harinya langsung di kejutkan oleh suara lantang marah marah tidak karuan , ngomel sana sini tidak ada arti , tangan sebelah memegang botol minuman keras . Dalam hati saya mengatakan ” bukankah itu pengemis yang tadi pagi ” . Aneh , dan bener bener aneh . Dari kejadian ini , saya tekadkan untuk sedikit mengamati kegiatan mereka dan lingkungan sekitarnya . Tidak jauh berbeda dengan Indonesia ternyata , di sini sasaran mereka adalah orang asing ( tenaga kerja asing ) yang kurang begitu mengenali mereka . Sementara warga Korea Selatan sendiri , sedikit sekali ( hampir tidak pernah ) yang memberikan iba kepada pengemis ini .

Kalau ingin tau seperti apa kegiatan mereka ( pengemis dan gelandangan ) , coba pagi pagi sampeyan datang ke stasiun kereta bawah tanah setempat dan langsung menuju halaman belakang . Di situ sampeyan akan di kejutkan pemandangan sisi lain dari Korea Selatan . Bagaimana mereka menikmati sisa hidup mereka , dan bagaimana mereka menutupi ” kebutuhanya ” . Dengan kata lain , pengemis tidak hanya di temukan di Indonesia saja . Di negara maju yang seperti ini , pengemis dan gelandangan juga tumbuh subur . Berbeda sekali dengan China , kalau sampeyan ke China coba sampeyan amati pernahkan sampeyan menemukan pengemis ??

Saya di sini hanya menuliskan apa adanya saja , tidak saya tutup tutupi dan juga tidak saya lebih lebihkan . Secara kebetulan yang saya lihat di sini seperti ini . Lain waktu kalau saya menemukan hal hal yang baik , maka akan saya tulis ” baik ” . Teman saya sendiri bilang , kalau saya terlalu banyak mengurusi hal hal yang tidak penting , tidak ada untungnya di kepala dan di masa depan . Dan saya tidak tahu , apakah tulisan seperti ini terasa penting dan bermanfaat bagi sampeyan .


TAGS Catatan Pengalaman Pribadi luar negeri Pengalaman hidup TKI aspirasi Korea Kebudayaan gaya hidup di korea Sisi lain Korea Selatan Di balik kemajuan Korea Selatan Perekonomian Korea Selatan Pengemis dan gelandangan di Korea Selatan Korea Selatan sebagai negara tercanggih kedua di dunia Pendapatan perkapita Korea Selatan


-

Author

Follow Me