Gunpo Fc dan Festival kebudayaan

Budaya, luar negeri, review Mei 23rd, 2011

guno16

Apa yang pertama kali muncul di benak kita ketika menyebutkan kata ” TKI ” ?. Kerja , kerja , dan terus menerus bekerja ? . Pernyataan seperti itu sepenuhnya kurang tepat . Sebuah klub sepak bola Gunpo Fc  , secara keseluruhan anggotanya adalah tenaga kerja Indonesia Korea Selatan . Kegiatan gunpo Fc di sini tidak hanya bergerak di dunia sepak bola saja , tetapi juga meliputi sosialisasi peraturan dan perlindungan buruh migran , travel , dan festival kebudayaan . Contoh kecil saja pada kegiatan 2 minggu terakhir ini yakni berpartisipasi pada festival kebudayaan di Universitas Kyung Hee dan festival kebudayaan yang di selenggarakan oleh shelter bersama  ICC Ansan di Gwangju hari minggu kemaren . Kegiatan semacam ini sudah di lakoni Gunpo Fc selama 11 tahun terhitung dari 15 Mei 2000 . Sedangkan untuk markasnya sendiri , terletak kurang lebih 20 meter dari stasiun Gunpo .

Festival kebudayaan Universitas kyung Hee

Pada agenda acara  festival kebudayaan di Universitas Kyung Hee hari minggu 15 Mei 2011 kemaren yang sekaligus bertepatan dengan hari lahirnya Gunpo Fc , Gunpo Fc di tunjuk sebagai salah satu panitia festival . Di samping dscn0232jjksebagai panitia , Gunpo Fc juga turut sumbang sih berpartisipasi dengan menampilkan tarian bala dewa dan alunan lagu khas Indonesia . Yang membuat sangat berkesan di sini , selama festival berlangsung hampir secara keseluruhan anggota Gunpo Fc memakai baju batik . Sebelumnya kita semua tahu bahwa batik merupakan salah satu hasil kebudayaan Indonesia yang keberadaanya di akui di dunia International . Dengan memakai batik ini , menunjukkan simbol rasa besarnya nasionalisme TKI  , menunjukkan kentalnya rasa kebersamaan dan gotong royong sesama TKI di Korea Selatan .

Adapun visi dan misi dari festival kebudayaan di Universitas Kyung Hee ini adalah untuk memperkenalkan kebudayaan kita ( Indonesia ) kepada warga Korea Selatan dan warga lainya . Tentunya juga festival semacam ini akan menarik wisatawan asing khususnya Korea Selatan untuk berkunjung ke Indonesia .

Festival Kebudayaan Gwangju

Minggu 22 Mei 2011 tim Gunpo Fc menghadiri undangan sebuah festival kebudayaan yang di selenggarakan oleh shelter bersama dengan  ICC Ansan di Gwangju . Tim Gunpo Fc berangkat dengan jumlah rombongan 1 bus atau kurang lebihnya 45 orang . Peserta dari festival ini meliputi Indonesia , Mongolia , China , Vietnam , Sri lanka , dan philipine . Kurang lebihnya 10 band Indonesia ikut meramaikan festival ini , belum termasuk band dari negara lainya . Sebagai pembukaan , Miracle band tampil dengan lagu Korea  ” 사람이 꽃 보다 이름답다 (  sarami kot boda areumdabda ) ” dan lagu ciptaanya sendiri yang sudah di rilis 6 bulan dengan judul ” Sahabat ” .

Acara  festival kebudayaan di gwangju ini juga menyediakan layanan posko Free medical service , Consular affairs service , Labor Low Consulting , Integrated Field Service Center dan HRD Korea . Mengenai visi dan misi festival ini sendiri adalah untuk mensosialisasikan penyelesaian masalah tenaga kerja . Contohnya penunggakan gaji oleh majikan terhadap pekerja , perlakuan tidak adil oleh pihak perusahaan terhadap pekerja dan lain sebagainya .

Dengan kegiatan kegiatan positif seperti di atas , di harapkan Gunpo Fc mampu melebarkan sayap khususnya di dunia sepak bola , mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia TKI di Korea Selatan dan bukan hal yang tidak mungkin seandainya mencetak mental pengusaha yang siap bersaing di era global ini .

Kepengurusan Gunpo Fc :

  • Ketua : Sujiyanto
  • Wakil Ketua : Muchid Hidayat
  • Pembina : Sujiyono
  • Penasehat : Mujiyanto
  • Bendahara 1 : Totok Sulianto
  • Bendahara 2 : Irwanto
  • Sekretaris : Khoirul Huda

Kebudayaanku di telan bumi tak di museumkan

Budaya Oktober 28th, 2010

Saya terkadang heran sendri , kalau mengucapkan kata kata dalam bahasa negara lain mungkin bisa melafalkannya dengan lancar dan fasih , tapi mengucapkan bahasa daerah sendiri masih blepotan . Terlebih lagi untuk menuliskannya , saya jamin 100 % ” tidak bisa ” tanpa adanya buku panduan . Padahal semua itu merupakan kebudayaan  sendiri , kebudayaan daerah tempat saya lahir dan di besarkan . Kebudayaan ini seolah terlupakan , perlahan lenyap di telan bumi .

Saya sebagai orang jawa  , aneh rasanya tidak bisa mengucapkan kata kata dalam bahasa jawa kromo inggil atau menuliskannya ke dalam aksara jawa . Dari generasi ke generasi , budaya Jawa kromo inggil sudah menuju ambang di anggap basi dan tidak lagi di perlukan dalam kehidupan sehari . Identitas daerah sudah tidak di anggap penting lagi  . Kalau saya sendiri saja masih blepotan dan tidak bisa menuliskanya tanpa buku panduan ,  bukan tidak mungkin generasi setelah saya akan sama sekali tidak mengerti . Dan anehnya lagi saya dengar untuk mata pelajaran bahasa daerah jawa mulai di tiadakan di beberapa sekolah , duh .Kalau seperti ini bisa bisa kebudayaan yang satu ini akan lenyap tanpa jasad , bahkan tidak di temukan di museum sekalipun .

Tidak hanya itu saja , untuk hitungan hari jawa seperti wage , kliwon , pahing , pon , legi dan seterusnya , saya juga kurang mengerti . Apalagi menghitungnya berdasarkan nilai masing masing hari , untuk mengurutkanya dengan benar saja saya tidak hafal . Padahal kedua orang tua saya selalu mengejawantahkan urutan hari seperti ini , dan menerapkannya untuk meramalkan cuaca sebelum memasuki musim tanam padi . Kenyataanya sampai sekarang saya masih tidak paham tentang semua itu . Entahlah , ketidak pahaman  ini lantas karena ketidak pedulian , tidak memerlukannya , atau mungkin karena benar benar leletnya otak pentium 2 saya untuk memahaminya .

Saya merasa seperti kacang lupa sama kulitnya . Lahir  dan di besarkan di daerahnya , tapi kurang begitu peduli terhadap  kebudayaan daerah sendiri . Sampeyan pernah membaca atau mendengar lagu ” ilir ilir ” karya Kanjeng Sunan Kali Jaga ? , tidak lama sebelum ini saya baru mendapatkan liriknya dari youTube dan menghafalkanya . Sebelumnya hanya beberapa baris saja yang saya tau , itupun tanpa mengerti maksud dari setiap kalimatnya . Ironis memang , saya yang di lahirkan dan di besarkan di Demak tidak mengerti karya daerah sendiri . Anehnya lagi hal semacam  ini tidak hanya saya seorang , mungkin ribuan bahkan jutaan orang di negeri ini .

Saya berani menuliskan seperti ini karena fakta yang saya temukan tidak jauh berbeda dari semua di atas . Tidak jarang saya menemui seseorang yang tidak bisa mengucapkan  bahasa daerah sendiri , tidak mengerti kebudayaan daerah sendiri . Dalam hal ini adalah bahasa jawa kromo inggil . Itu bisa dilihat dari setiap perkenalan dengan beberapa teman . Saya sering di tanya apakah saya jawa atau china ? saya jawab ” Jawa , karena saya di lahirkan dan di besarkan di jawa “. Bisa bahasa mandarin  ?, saya bilang ” bisa “ , dan di tanya apakah bisa berbahasa jawa kromo inggil ? ” bisa , meskipun masih blepotan . Lha wong orang jawa kok” . Tapi ketika saya balik tanya dengan menggunakan bahasa jawa kromo inggil , yang terjadi sebaliknya ” maaf mas , pakai bahasa Indonesia saja . Saya tidak bisa berbahasa jawa kromo inggil , sudah banyak yang lupa mas ” Lho kok ,…. ?

Terus terang saja kemaren saya sempat tercengang membaca komentar dari  Wardz . Ia menuliskan kalau salah satu tetangganya tidak bisa berbahasa daerah seuasai merantau di luar negeri dan memutuskan untuk menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa asingnya dalam kehidupan sehari hari di daerahnya sendiri .

Mungkin ini sekedar mengingatkan kepada kita saja  sebelum terlambat . Seyogyanya kita tetap melestarikan kebudayaan daerah kita , bahasa daerah kita sendiri . Jangan sampai karena kurang keperdulian kita terhadap kebudayaan sendiri , berakibat di klaim daerah atau negara lain sebagai kebudayaanya dan kita baru gembor gembor menyuarakan bahwa itu kebudayaan kita . Kalau sudah seperti itu , siapa yang pantas di salahkan ? , itu menjadi bahan koreksi untuk diri kita sendiri termasuk saya tentunya . Kita pasti tidak menginginkan kebudayaan daerah kita lenyap di telan bumi tanpa jasad dan tidak di museumkan dan itu semua jawabannya ada pada diri kita sendiri .

Tidak menikah , pacaran untuk seumur hidup

Budaya, Renungan, aspirasi, luar negeri September 25th, 2010

Saya rasa rasanya iri melihat begitu banyaknya pasangan yang romantis . Kalau keromantisan itu di lakukan oleh pasangan muda yang belum menikah , saya rasa sangat bisa di maklumi dan saya sendiri tidak harus iri melihat hal yang sudah biasa itu . Tapi yang saya irikan di sini , saya sering di sajikan pemandangan keromantisan yang di lakoni pasangan setengah baya bahkan seumuran kakek nenek . Pemandangan seperti ini yang membuat kedua mata saya tercengang , penasaran ingin tau apa  yang menjadi rahasia kelanggengan mereka .

Di korea , memang bukan hal yang  aneh kalau mendapati pasangan setengah baya atau kakek nenek begitu mesranya layaknya anak ABG . Masa pacaran mereka pertahankan sampai jenjang tua . Saya melihat mereka sangat menikmati indahnya masa pacaran itu , seakan tidak mau kalah dengan anak muda sekarang  . Peduli setan sama yang namanya malu , mereka tetap melakukan keromantisan layaknya ABG itu di manapun dan kapanpun mereka bertemu , di taman , kereta , bus . Bergandeng tangan , bercanda , berpelukan , bahkan berciuman di tempat umum mereka jalani seperti tanpa adanya rasa risih sedikitpun. Entahlah , saya sendiri juga tidak tau apakah itu memang sudah menjadi kebudayaan mereka atau memang karena mereka sudah terhanyut oleh keasyikannya .

Mendapati pemandangan yang langka seperti ini tentu saja saya iri , dan penasaran ingin tau apa yang menjadi rahasia romantisnya masa tua mereka . Kenyataan berkata lain , tidak seperti apa yang saya pikirkan .Keromantisan mereka yang di jalani selama ini ternyata tanpa adanya ikatan pernikahan , oh my god . Saya hanya bisa menggelengkan kepala setelah banyak bertanya kesana kemari selama ini . Saya tidak habis pikir , mereka ingin menikmati masa pacaran sepenuhnya tapi komitmen tanpa menikah , lha terus,…. ?

Sampeyan ingin tau kira kira apa alasan dan penjelasan mereka melakukan hal itu ? mempertahankan romantika masa pacaran tanpa melakukan pernikahan ? . Kebetulan di tempat kerja saya , ketiga atasan operator mesin ” tidak menikah ” . Selama ini mereka tetap bisa menikmati indahnya ” anugerah pernikahan ” tanpa harus menikah , dan memang seperti itu yang mereka inginkan . Ketika di tanya kenapa tidak menikah , ” sekarang apa tujuan dari menikah itu ? melakukan hubungan biologis dan memiliki anak , tanpa menikahpun itu bisa kami lakukan . Menikah hanya akan menambah beban kehidupan saja . Menghidupi anak bukan masalah sepele dalam kehidupan , jerih payah kami akan ludes untuk kebutuhan yang satu ini , anak . ”

Bagaimana dengan masa tua ? siapa yang akan merawat ? ” Asuransi masa tua yang menjamin hari tua kami , kami memiliki dana pensiun dari perusahaan , asuransi mobil , rumah dan bahkan asuransi masa tua . Semua itu akan menjamin hari tua kami , setiap bulan kami membayar untuk tunjangan masa tua . ”

Bagaimana kalau sewaktu waktu mengalami kesepian , siapa yang akan menemani ? ” Di sini lokalisasi di legalkan , tidak susah mencari teman untuk sekedar menghibur . Bayangkan kalau kita memiliki istri , mereka juga di sibukkan dengan pekerjaanya dan tidak ada waktu untuk menghibur kita , melayani hubungan biologis kita sewaktu waktu mereka sering mengeluh . Lagi pula mencari teman untuk sekedar menghibur tidaklah mahal , masih mahalan kalau punya istri “.

Kenapa pihak orang tua mengijinkan untuk melakukan semua itu , apa tidak malu ? ” Kamu belum tau ya,…? di korea ada tahapan untuk menjalani pernikahan , yang pertama tunangan . Di tahap ini kami hanya boleh bertemu dan berpacaran seperti anak anak muda yang kamu lihat selama ini . Tahap selanjutnya ” yakun ” , kalau sudah memasuki tahapan yakun kami boleh tinggal serumah , belajar menjalani persiapan rumah tangga . Kami juga di perbolehkan melakukan layaknya suami istri ( bersetubuh ) dengan konsekuensi tidak hamil . Pada tahapan inilah yang sangat menyenangkan , maka dari itu mayoritas orang lebih suka mempertahankan tahap ini dari pada tahap selanjutnya , menikah . Kami bisa menikmati apa yang di namakan ” anugerah pernikahan ” di tahap ini , kami senantiasa bisa mempertahankan romantisnya masa berpacaran sampai tua sekalipun ”

Read the rest of this entry »

Apalah arti sebuah nama ?

Budaya, Renungan, aspirasi September 21st, 2010

“ Apalah arti sebuah nama ? ” , miris rasanya kalau bertanya nama seseorang jawaban yang di terima seperti itu . Saya kurang paham apakah jawaban yang di lontarkan itu memang karena orang itu tidak tau arti namanya , atau memang lupa namanya , atau jangan jangan sudah tidak peduli dengan identitasnya sendiri , duh ….

Sudah ngobrol ngalor ngidul , dari masalah umum hingga pribadi bahkan rencana usaha di kampung halaman , sudah sewajarnya saya menanyakan nama lawan bicaranya ini . ” Maaf mas , kalau boleh tau siapa namanya , saya khoirul huda “,  mendadak perasaan ini jadi campur aduk menerima jawaban “ apalah arti sebuah nama ? ” . Mendengar jawaban seperti itu , saya jadi berpikiran negatif tentang dia . Apakah dia tidak begitu menghendaki pertemuan dan pembicaran ini , hanya menganggap pertemuan dan pembicaraan ini sebagai angin lalu saja . Saya jadi meragukan kebenaran dari semua yang di ceritakanya , berkesan tidak ada lagi pertemuan di lain waktu nanti .

Saya pribadi menilai bahwa nama itu penting , terlepas sebagai identitas diri , nama juga sebagai ” stempel penghargaan ” dari orang tua . Orang tua tidak mungkin sembarangan memberikan nama kepada anaknya , dari arti nama itu sendiri sebagai harapan sang orang tua kepada anaknya , bahkan sampai waktu yang bertepatan dengan hari kelahiran sang bayi . Kalau memang sang orang tua tidak terlalu menghiraukan arti sebuah nama , kenapa tidak di berikan nama ” bandit ” atau yang lainnya saja . Pada kenyataanya sampai detik ini saya belum menemukan nama seseorang dengan nama ” bandit ” , kalaupun ada itu bukanlah sebagai ” stempel penghargaan “  dari orang tua , melainkan  berstatus sebagai nama keren ( nick name ) .

Tidak sedikit orang tua sudah mempersiapkan sebuah nama untuk sang calon bayi jauh sebelum hari kelahirannya . Atau bahkan mereka sudi jauh jauh mendatangi kediaman wong pinter untuk sekedar meminta pendapat apa nama yang cocok untuk sang bayi . Harapan pertama orang tua kepada anak bisa juga di tentukan dari arti nama itu sendiri .

Terus terang saja saya kesal bin jengkel kalau bertanya nama  seseorang , lantas di jawab ” apalah arti sebuah nama ” , seolah kurang menghargai kedua orang tua selaku pemberi nama . Mereka begitu serius dan mempersiapkannya dengan penuh perhitungan , tidak main asal stempel saja . Kalau  sampai sekarang masih belum tau arti nama kita , bisa di tanyakan kepada orang tua apa arti dari sebuah nama kita dan dengan alasan apa  mereka memberikan stempel itu kepada kita . Saya di sini merasa jengkel kalau mendengar  jawaban ” apalah arti sebuah nama ” , jadi bukan berarti orang lain tidak seperti saya jika mengalami hal yang sama . Apa susahnya menyebutkan nama ?, apa terbesit niat tidak baik sampai sungkan menyebutkan nama sendiri di hadapan orang lain kalau memang di tanyakan . Jika  memang menginginkan orang lain merasa jengkel , ya monggo silahkan di jawab apalah arti sebuah nama , tapi saya rasa memperlakukan orang lain seperti halnya kita ingin di perlakukan oleh orang lain itu akan lebih baik .

China Menguasai Dunia

Budaya, Ekonomi, luar negeri Nopember 8th, 2009

Sebelum menerbitkan postingan ini saya masih berfikir cocoknya di beri judul “ China Menguasai Dunia “ atau “ China Menggeser Amerika Serikat “. Secara perekonomian mungkin kita tahu bahwa Amerika Serikatlah yang menguasai perekonomian dunia saat ini, bila mana China mampu menggeser Amerika Serikat di bidang perekonomian, maka istilah “ China Menguasai Dunia “ tidaklah terlalu berlebihan, atau bahkan untuk judul postingan ini. Seandainya saja saya memberikan judul “ China Menggeser Amerika Serikat “, maka yang terjadi adalah perbandingan dari kedua negara tersebut, sementara saya sendiri belum pernah ke Amerika ataupun tinggal bersama bule bule Amerika. Lantas bagaimana saya bisa membeberkan lebih jelas mengenai Amerika…..

Sebenarnya apa yang istimewa dengan bangsa China?. Bangsa China adalah bangsa yang memiliki fleksibilitas tinggi, dinamis, mudah dan mau berubah dan mampu ( cepat ) beradaptasi dengan lingkungan manapun mereka tinggal. Pernahkah kita menyadari di kota mana kaki kita berpijak, di negara mana kita berada, saya yakin di situ ada bangsa chinanya, dan di mana mereka tinggal di situ mereka menduduki posisi posisi yang kuat dalam lingkungan tersebut. Bahkan hampir semua tempat strategis, terutama yang berkaitan erat dengan usaha bisnis, telah mereka miliki. Sangat berbeda dengan pribumi pribumi di sekitar tempat saya tinggal, mereka lebih suka nggolek susuk” ( mencari uang kembalian ). Menjual lahan yang strategis dengan harga tinggi kemudian membelikannya tempat yang terletak di pedalaman yang kurang strategis dengan harga murah dan mengharapkan sisa uang kembalian dari hasil penjualan lahan strategis tadi. Lalu bagaimana dengan bangsa china ? mereka memanfaatkan kesempatan yang seperti ini. Mereka yakin dengan memiliki tempat strategis, membuka usaha apapun akan laku, tidak hari ini lain kalipun jadi.

Read the rest of this entry »