Universitas Terbuka ( UT ) hadir di Korea Selatan

Pendidikan, luar negeri, review Mei 25th, 2011

Sekedar sharing saja , siapa tau saja sampeyan atau kerabat , teman atau mungkin tetangga sampeyan yang menjadi TKI di Korea Selatan berminat dengan program ini . Jauh sebelumnya saya sendiri pernah posting satu tema dengan ini TKI menjadi pelajar bea siswa ? , hanya saja di situ saya tulis untuk mengambil sebuah keputusan mesti ada ritual khusus ( tapa brata ) :D .

Sekarang ini , Universitas Terbuka ( UT ) sudah di buka di Korea Selatan . UT ini terbentuk berkat kerja sama dari UT pusat ,KBRI Seoul , PERPIKA bersama dengan seluruh musholla ,ICC , dan berbagai paguyuban warga negara Indonesia . UT Korea mulai di sosialisasikan hari Minggu 12 Desember 2010 di KBRI Seoul sekaligus di lanjutkan dengan pendaftaran calon mahasiswa .Di hari itu tercatat 43 orang calon mahasiswa berdasarkan jurusan pilihanya masing masing .

S1 Manajemen : 24 orang

S1 Ilmu Komunikasi : 9 orang

S1 Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan : 10 0rang

Mengenai visi dan misi di bukanya UT Korea ini adalah supaya Tenaga Kerja Indonesia di Korea Selatan mendapatkan kesempatan yang lebih baik dalam menghadapi dunia kerja di masa yang akan datang .

Informasi pendaftaran mahasiswa baru UT Korea berdasarkan daerah masing masing :

  • Guro : Nursito Aji ( +8210 5820 3030 )
  • Ujongbu : Aziz ( +8210 2367 1806 )
  • Ansan : Hermansyah / Dika ICC ( +8210 5501 4481 )
  • Busan : Wildan Thoyib ( +8210 8916 8724 )
  • Cheonan : Hasrul ( +8210 5539 7728 )
  • Daegu : Ino Sutrisno ( +8210 3948 8118 )
  • Daejon : Dedy Prasetyo ( +8210 3526 8314 )

Waktu pendaftaran sampai dengan 28 Mei 2011 , untuk keterangan lebih lanjut bisa di buka utkorea.wordpress.com dan tinyurl.com/utgenap2011

Informasi ini saya peroleh dari buletin Mitra Nusantara . Dan terus terang saja saya sendiri juga baru mengantongi informasi ini beberapa hari yang lalu . Seandainya tidak mendapat tugas mengisi di salah satu kolom buletin ini , mungkin saya tidak tau sama sekali bahkan tidak bakalan posting ini . Saya rasa masih banyak yang belum mengetahui informasi ( di bukanya UT Korea ) ini , khususnya di kalangan TKI . Itu alasan kenapa saya menulis kembali informasi ini di Blog Catatan

Gunpo Fc dan Festival kebudayaan

Budaya, luar negeri, review Mei 23rd, 2011

guno16

Apa yang pertama kali muncul di benak kita ketika menyebutkan kata ” TKI ” ?. Kerja , kerja , dan terus menerus bekerja ? . Pernyataan seperti itu sepenuhnya kurang tepat . Sebuah klub sepak bola Gunpo Fc , secara keseluruhan anggotanya adalah tenaga kerja Indonesia Korea Selatan . Kegiatan gunpo Fc di sini tidak hanya bergerak di dunia sepak bola saja , tetapi juga meliputi sosialisasi peraturan dan perlindungan buruh migran , travel , dan festival kebudayaan . Contoh kecil saja pada kegiatan 2 minggu terakhir ini yakni berpartisipasi pada festival kebudayaan di Universitas Kyung Hee dan festival kebudayaan yang di selenggarakan oleh shelter bersama ICC Ansan di Gwangju hari minggu kemaren . Kegiatan semacam ini sudah di lakoni Gunpo Fc selama 11 tahun terhitung dari 15 Mei 2000 . Sedangkan untuk markasnya sendiri , terletak kurang lebih 20 meter dari stasiun Gunpo .

Festival kebudayaan Universitas kyung Hee

Pada agenda acara festival kebudayaan di Universitas Kyung Hee hari minggu 15 Mei 2011 kemaren yang sekaligus bertepatan dengan hari lahirnya Gunpo Fc , Gunpo Fc di tunjuk sebagai salah satu panitia festival . Di samping dscn0232jjksebagai panitia , Gunpo Fc juga turut sumbang sih berpartisipasi dengan menampilkan tarian bala dewa dan alunan lagu khas Indonesia . Yang membuat sangat berkesan di sini , selama festival berlangsung hampir secara keseluruhan anggota Gunpo Fc memakai baju batik . Sebelumnya kita semua tahu bahwa batik merupakan salah satu hasil kebudayaan Indonesia yang keberadaanya di akui di dunia International . Dengan memakai batik ini , menunjukkan simbol rasa besarnya nasionalisme TKI , menunjukkan kentalnya rasa kebersamaan dan gotong royong sesama TKI di Korea Selatan .

Adapun visi dan misi dari festival kebudayaan di Universitas Kyung Hee ini adalah untuk memperkenalkan kebudayaan kita ( Indonesia ) kepada warga Korea Selatan dan warga lainya . Tentunya juga festival semacam ini akan menarik wisatawan asing khususnya Korea Selatan untuk berkunjung ke Indonesia .

Festival Kebudayaan Gwangju

Minggu 22 Mei 2011 tim Gunpo Fc menghadiri undangan sebuah festival kebudayaan yang di selenggarakan oleh shelter bersama dengan ICC Ansan di Gwangju . Tim Gunpo Fc berangkat dengan jumlah rombongan 1 bus atau kurang lebihnya 45 orang . Peserta dari festival ini meliputi Indonesia , Mongolia , China , Vietnam , Sri lanka , dan philipine . Kurang lebihnya 10 band Indonesia ikut meramaikan festival ini , belum termasuk band dari negara lainya . Sebagai pembukaan , Miracle band tampil dengan lagu Korea ” ??? ? ?? ???? ( sarami kot boda areumdabda ) ” dan lagu ciptaanya sendiri yang sudah di rilis 6 bulan dengan judul ” Sahabat ” .

Acara festival kebudayaan di gwangju ini juga menyediakan layanan posko Free medical service , Consular affairs service , Labor Low Consulting , Integrated Field Service Center dan HRD Korea . Mengenai visi dan misi festival ini sendiri adalah untuk mensosialisasikan penyelesaian masalah tenaga kerja . Contohnya penunggakan gaji oleh majikan terhadap pekerja , perlakuan tidak adil oleh pihak perusahaan terhadap pekerja dan lain sebagainya .

Dengan kegiatan kegiatan positif seperti di atas , di harapkan Gunpo Fc mampu melebarkan sayap khususnya di dunia sepak bola , mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia TKI di Korea Selatan dan bukan hal yang tidak mungkin seandainya mencetak mental pengusaha yang siap bersaing di era global ini .

Kepengurusan Gunpo Fc :

  • Ketua : Sujiyanto
  • Wakil Ketua : Muchid Hidayat
  • Pembina : Sujiyono
  • Penasehat : Mujiyanto
  • Bendahara 1 : Totok Sulianto
  • Bendahara 2 : Irwanto
  • Sekretaris : Khoirul Huda

Sisi lain korea selatan

Ekonomi, aspirasi, luar negeri Mei 10th, 2011

” Etos kerja orang Jepang adalah 5 kali lipat dari etos kerja orang Indonesia , sedangkan etos kerja penduduk Korea Selatan adalah 3 kali lipat dari etos kerja penduduk Jepang . Kesimpulanya , untuk bisa seperti Korea Selatan yang sekarang ini , penduduk Indonesia mesti meningkatkan etos kerjanya 15 kali lipat dari etos kerja saat ini ” . Kurang lebih seperti itu kata teman saya , secara pastinya saya sendiri masih belum yakin . Salah satu stasiun televisi swasta Indonesia juga pernah memberitakan bahwa Korea Selatan merupakan negara tercanggih kedua di bidang teknologi dan sarana informatika . Tidak hanya itu , saya juga pernah membaca di berita online yang menuliskan bahwa pendapatan perkapita penduduk korea selatan adalah kisaran 30 juta rupiah perbulanya . Ironisnya , di negeri yang penuh prestasi seperti itu masih banyak juga adanya pemandangan pengemis dan gelandangan .

Sedikit berbeda dengan pengemis dan gelandangan di Indonesia . Di Indonesia mereka ada mungkin karena memang minimnya lapangan pekerjaan dan itu sebagai ” pekerjaan ” . Pakaian yang di kenakan kucel dan kotor . Merata disegala umur , dari anak anak hingga manula . Keberadaanya selalu di kejar kejar petugas satpol PP . Sementara di sini di Korea Selatan mereka ada karena malasnya mereka bekerja , bahkan tidak jarang mereka ” ngetamp ” di tempat selebaran lowongan kerja . Pakaian ? bersepatu , lumayan rapi , sesekali berkacamata hitam . Tidak jarang bermodalkan alat musik untuk sekedar menghibur ” pengiba ” . Selama di sini saya belum pernah menemukan pengemis dan gelandangan berusia muda atau anak anak . Semua dari yang saya temui , mereka adalah berusia lanjut . Di manapaun mereka berada , mereka tanpa ada rasa takut di jaring petugas ketertiban . Hanya saja di beberapa tempat keramaian ada tulisan himbauan untuk tidak memberi uang kepada mereka .

Saya sendiri punya penilaian kurang mengenakkan terhadap pengemis dan gelandangan di sini . Sudah 2 kali saya memergoki pengemis yang paginya mengemis dan malamnya mabuk mabukkan . Bahkan pada pengalaman pertama saya langsung kena batunya . Kepala saya pernah di pukuli seorang pemabuk tua di pinggiran toko . Dengan nada ” sok pinter ” dia bercerita jalan jalan sukses pengusaha Korea Selatan . Berlagak seperti pahlawan ia katakan kalau kami ( tenaga kerja asing ) mesti berterima kasih kepadanya karena mengurangi angka kemiskinan di negara kami . Anehnya , minggu paginya ia mengemis di stasiun kereta bawah tanah . Saya ingat betul wajah itu , dan tidak akan melupakanya .

Pengalaman kedua di stasiun yang berbeda . Baru pagi harinya memberi seadanya kepada pengemis , sore harinya langsung di kejutkan oleh suara lantang marah marah tidak karuan , ngomel sana sini tidak ada arti , tangan sebelah memegang botol minuman keras . Dalam hati saya mengatakan ” bukankah itu pengemis yang tadi pagi ” . Aneh , dan bener bener aneh . Dari kejadian ini , saya tekadkan untuk sedikit mengamati kegiatan mereka dan lingkungan sekitarnya . Tidak jauh berbeda dengan Indonesia ternyata , di sini sasaran mereka adalah orang asing ( tenaga kerja asing ) yang kurang begitu mengenali mereka . Sementara warga Korea Selatan sendiri , sedikit sekali ( hampir tidak pernah ) yang memberikan iba kepada pengemis ini .

Kalau ingin tau seperti apa kegiatan mereka ( pengemis dan gelandangan ) , coba pagi pagi sampeyan datang ke stasiun kereta bawah tanah setempat dan langsung menuju halaman belakang . Di situ sampeyan akan di kejutkan pemandangan sisi lain dari Korea Selatan . Bagaimana mereka menikmati sisa hidup mereka , dan bagaimana mereka menutupi ” kebutuhanya ” . Dengan kata lain , pengemis tidak hanya di temukan di Indonesia saja . Di negara maju yang seperti ini , pengemis dan gelandangan juga tumbuh subur . Berbeda sekali dengan China , kalau sampeyan ke China coba sampeyan amati pernahkan sampeyan menemukan pengemis ??

Saya di sini hanya menuliskan apa adanya saja , tidak saya tutup tutupi dan juga tidak saya lebih lebihkan . Secara kebetulan yang saya lihat di sini seperti ini . Lain waktu kalau saya menemukan hal hal yang baik , maka akan saya tulis ” baik ” . Teman saya sendiri bilang , kalau saya terlalu banyak mengurusi hal hal yang tidak penting , tidak ada untungnya di kepala dan di masa depan . Dan saya tidak tahu , apakah tulisan seperti ini terasa penting dan bermanfaat bagi sampeyan .

Berselancar wisata korea musim semi

Wisata, luar negeri April 29th, 2011

Sepertinya cuaca sudah mulai bisa di ajak kompromi . Kemana mana tidak harus membawa baju layaknya biorobot . Tanaman di pinggiran jalan juga sudah sudi bersenyum manis dengan menunjukkan bunga mereka , hanya saja 204600_1657272554532_1318670688_1297379_2571504_osampai detik saya menuliskan post ini, mekaran bunga masih di dominasi pohon sakura . Mungkin yang lainya masih menunggu antrian muncul . Sementara itu , yang perlu saya siapkan untuk menyambut datangnya musim semi ini adalah sudah tentunya kesiapan fisik , kamera dan satu hal lagi yang tidak boleh di lupakan ” uang saku ” :D

Yang menjadi pertanyaanya sekarang , kalau musim semi seperti ini enaknya jalan jalan kemana ? . jawabanya sederhana saja ” Taman ” . Tapi terus terang saja saya sangat menghindari taman kota , alasanya polusi dan kurang alami . Dan satu hal lagi dari taman kota tidak memiliki ciri khas tersendiri yang mewakili kota itu . Nah , saya ada rekomendasi sedikit soal taman yang memiliki pesona luar biasa dan juga berkarakter khas menurut saya . Lokasinya juga masih di sekitar Seoul dan mudah di jangkau transportasi khususnya kereta bawah tanah yaitu Seoul Grand Park dan lembah Seoul Tower .

Secara kebetulan sekali bulan 5 ini ada liburan panjang dari tanggal 5 sampai tanggal 10 . Dan rencananya saya akan meluncur ke kedua taman di atas . Yang pertama Seoul grand park , hanya saja tujuan saya nanti mungkin bukan di tamanya , melainkan di kebon binatangnya dan arena permainanya yang di kenal Seoul Land . Hari kedua atau tanggal 6 ke Seoul Towel . Untuk lebih bisa menikmati keindahan taman Seoul Towel ini yakni dengan cara mendaki dari lembahnya menuju puncak Seoul Towel . Dalam perjalanan ini , hiasan bunga taman akan menghipnotis para pengunjungnya dan spontan saja rasa lelah juga lenyap entah kemana . Sementara perjalanan pulangnya , bisa naik kereta gantung . Sambil melonggarkan otot kaki , juga bisa melihat keindahan tata kota Seoul dari atas . Rencananya tanggal 6 nanti akan saya habiskan bermalas malasan di sini sambil menikmati keindahan alam sekitar .

Kalau sekiranya sampeyan ingin bareng dengan saya , ya silahkan . Tanggal 5 saya tunggu di Seoul Grand Park jam 13 : 00 sekalian makan siang bareng , tapi segala keperluan bayar sendiri ya ;) atau mungkin mau nraktir saya malahan ? kebetulan sekali tuh :D . Begitu keluar dari Stasiun Seoul Dae Geongweon langsung kelihatan tamanya .Sampeyan tidak lupa dengan muka saya kan ? :D .

Dalam liburan nanti saya hanya bisa menyempatkan 2 hari jalan jalan ke taman , selebihnya ingin melihat sudut sudut kemegahan bandara incheon dan stasiun stasiun kereta bawah tanah yang kemegahanya juga tidak mau kalah dengan bandara internasional Soekarno Hatta . Siapa tau saja Indonesia bisa seperti itu , syukur syukur bisa lebih malahan , amin .

Oh iya hampir lupa , berhubungan saya belum sempat jepret pemandangan untuk saat ini , dimusim semi ini khususnya bunga sakura , jadi di sini saya beri bocoran foto hasil jepretan sahabat saya Tazkiana saja . Rasa rasanya terasa asing saja postingan wisata kok tidak ada fotonya , tidak apa apa lah . Padahal lokasinya juga tidak jauh dari tempat saya tinggal . Lokasi foto di atas adalah Suwon , sedangkan saya sendiri tinggal di Hwaseong .

TKI juga perlu management

luar negeri April 27th, 2011

Setidaknya dari pada ngontel becak di Indonesia , mungkin sedikit lebih baik menjadi TKI . Tidak perlu bermain dollar-sign-clock_x172440061petak umpet dengan petugas satpol PP dan gaji yang di terima juga tidak berdasarkan untung untungan . Meskipun sebenarnya kalau di kalkulasikan lebih lanjut perbedaanya juga tidaklah jauh . Jadi jangan sampeyan bayangkan perbandinganya dengan pegawai negeri , terlalu jauhlah .

Yang perlu di garis bawahi di sini , sifat menjadi TKI adalah sementara , hanya tenaga kontrak semata , bukan sampai jenjang pensiun layaknya pegawai negeri . Masa setelah habis kontrak menjadi TKI sangat perlu di pikirkan dengan matang . Seorang TKI sangat di anjurkan bisa memanagement keuangan mereka selama menjadi perantau .

Hanya saja , tidak sedikit juga TKI yang bersifat glamor . Merasa apa apa bisa di jangkau , sampai sampai saya sendiri malah susah membedakan yang mana penduduk asli dan yang mana pendatang . Gaya hidup yang tidak sewajarnya seorang TKI kerap mencolok kedua mata saya . Mungkin sampeyan tidak percaya kalau seorang TKI mengendarai ( membeli ) mobil sebagai alat transportasi sehari harinya , pakaian bermerk menengah ke atas , tinggal di apartemen mewah , dan makanan tinggal pesan di antar . Saya sampai tidak habis pikir berapa gaji mereka perbulanya ? .

Kalau memang mereka tanpa pekerjaan sampingan seperti jasa pengiriman uang , jual pulsa , jualan online , menjadi tenaga arbaitan di waktu libur etc lantas apa pekerjaan mereka di sini ?. Entahlah , Di luar dari itu semua , itu sepenuhnya hak mereka . Duit duit mereka sendiri , tidak ada sangkutanya dengan saya .

Saya hanya berpikir , kalau hanya ingin hidup senang senang seperti itu kenapa juga mesti jauh jauh ke luar negeri ? . Di negeri sendiri kan malah enak , bisa dekat dengan keluarga ( emangnya nyari kerja gampang ? ) . Saya sendiri sangat takut membanggakan status TKI pada diri saya sendiri . Gaji tidaklah beda jauh dengan kerja di rumah , dan kesan di mata tetangga melimpah duit , padahal kenyataanya ? ( sawang sinawang ) Lalu apa yang mesti di banggakan ? Dan semua itu di lakukan dengan jangka pendek . Lantas apa yang akan di kerjakan setelahnya ? Kalau hal ini tidak di pikirkan masak masak oleh TKI khususnya saya sendiri , maka hanya bisa mengucapkan salam kenal saja dengan duit , tanpa memilikinya . Capeknya dapat , duit entah kemana .

TKI menjadi pelajar bea siswa ?

Kesempatan Kerja, luar negeri Januari 6th, 2011

Terinspirasi oleh obrolan singkat dengan sahabat blogerhusin via facebook dan saya pikir tidak ada salahnya menuliskannya di sini .

Huda : hahay ,… salam kenal ya sin ha ha ha

Husin : btw , u di korea ..beasiswa kuliah atau memang kerja ya huda…?

Huda : Ha ha TKI sin ,… sama dg TKI pada umumnya ^_^

Husin : sekalian kuliah aja disana cari beasiswa huda..?

Huda : oh susah sin ,… dulu rencananya mmg gitu , eh setelah sampe sini ternyata g semudah membalikkan telapak tangan ,… mesti ngurus visa lg n pulang k indonesia dulu , g bs rangkap .

Tapi apakah benar seorang TKI seperti saya bisa menjadi pelajar atau bahkan pelajar beasiswa ? . Bisa , hanya saja seperti yang saya katakan kepada husin , “tidak semudah membalikkan telapak tangan “. Berdasarkan informasi yang saya kantongi , saya ada 2 alternatif untuk mendapatkan status pelajar selagi masih bekerja sebagai TKI di Korea Selatan .

Pertama , mengikuti program lembaga pendidikan yang berstatus di akui .

  • Program ini gratis , tanpa di pungut biaya seperserpun . Biasanya di biayai oleh misioneris dan shelter ( nama / lembaga tempat pengaduan warga negara asing ) .
  • Materi yang di sampaikan : bahasa inggris dan bahasa korea , sastra korea dan kebudayaan korea ( guide ).
  • Jam belajar : hari libur ( sabtu dan minggu ) kurang lebih 4 jam per harinya.
  • Setelah lulus akan di berikan sertifikat . Dengan sertifkat ini , cukup bisa mengantar kita menjadi pengajar di yayasan atau universitas di Indonesia . ( itu mungkin kalau rektornya saya )

Kekurangannya , menurut saya program ini ” berbau ” penyebaran agama tertentu . Jadi kalau mengikuti program ini , pondasinya mesti kuat . Saya sendiri juga belum seutuhnya yakin apakah program semacam ini murni di sebut kegiatan belajar mengajar atau ada unsur lain di baliknya . Kalau tertarik cukup mencari informasinya di kantor shelter terdekat . Biasanya akan ada selebaran yang di bagi bagikan pada saat pembukaan kelas baru . Kalau tidak salah hanya berlaku untuk visa E9 .

Kedua , mengikuti ujian bea siswa . Informasi ujian ini bisa di dapatkan di lembaga pendidikan tertentu dan shelter . Kita cukup mengerjakan soal ujian yang di berikan . Kalau lulus dan lolos , berarti beasiswa sudah di tangan dan mesti pulang ke tanah air terlebih dahulu untuk mengurus visa . Proses semuanya di mulai dari awal . Merubah visa yang dulunya visa kerja menjadi menjadi visa pelajar , dan mesti mengurus tetek bengek lainnya . Hal semacam inilah yang saya tidak suka , karena visa tidak bisa langsung di alihkan dari visa kerja menjadi visa pelajar dan mesti pulang ke tanah air . Hanya saja , keuntungan dari program ini adalah kegiatan belajar mengajarnya di universitas dan tentunya tanpa embel embel misi penyebaran agama . Kalau memang TKI seperti saya ini ingin mengambil program ini , harus tapa brata terlebih dahulu untuk mengambil keputusan . Apakah kerja atau kuliah .

Sekarang bagaimana kalau seorang pelajar ingin menjadi tenaga kerja seperti saya ini ? . Sangat mudah sekali , cukup berhenti dari kegiatan belajarnya dan mencari pekerjaan yang membutuhkan tenaga ilegal . Lho kok tenaga ilegal ? ya , spontan saja status tidak lagi pelajar , melainkan tenaga kerja ilegal dan selamat menikmati ” permainan petak umpet “ dengan polisi imigrasi . Hitung hitung , menjadi tenaga kerja ilegal juga merupakan pelajaran yang tidak di dapatkan di bangku kuliah dan bahan skripsi . Dan lagi , ” permainan petak umpet ” ini akan menguji bagaimana melihat dan memanfaatkan peluang . Tapi kalau belum apa apa sudah ketangkap petugas imigrasi , ya jangan salah . Itu sudah menjadi resikonya . Resiko tentunya di tanggung penumpang .

By language we are master the world

aspirasi, luar negeri Januari 1st, 2011

By language we are master the world ” , kalimat ini pertama kali saya baca di tempat saya kursus bahasa inggris . Kalau di artikan berdasarkan pentium 2 saya , kurang lebihnya seperti ini ” dengan bahasa kita adalah penguasa dunia ” . Benar tidaknya kalimat itu , saya sendiri kurang mengerti . Kalimat ini begitu jelas terpampang di atas pintu masuk tempat kursus ” multi language excellent course ” ( bukan nama sebenarnya ) . Lewat multi language excellent course ini , saya mencoba membuktikan kebenaran arti dari kalimat “by language we are master the world ” itu. Yayasan ini juga yang memberi kesempatan saya untuk menjajal bea siswa ke luar negeri . Bisa di katakan juga yayasan inilah yang menjembatani saya sampai negeri tirai bambu China , Taiwan ROC ( Republik of china ) , dan yang terakhir negeri gingseng Korea Selatan ini . Dari pengalaman hidup di luar negeri seperti ini ,saya merasa kebenaran arti kalimat by language we are master the world semakin terbukti .

Pernahkah terpikirkan di benak sampeyan akan seperti apa jadinya hidup di negara atau tempat tertentu tanpa penguasaan bahasa setempat ?. Kalau tidak menguasai , setidaknya mengerti apa yang di maksudkan lawan bicara . Bahasa di sini berfungsi sebagai alat komunikasi sehari hari , sebagai jembatan yang menghubungkan dan mengungkap apa yang di rasa dan di pikirkan . Bagaimana bisa sejalan kalau tanpa adanya komunikasi . Sesuatunya akan sulit di searahkan tanpa yang satu ini , bahasa . Saya rasa tidak hanya di luar negeri saja , pemahaman bahasa juga sangat di perlukan di daerah daerah yang memiliki perbedaan bahasa .

Entah percaya atau tidak itu terserah sampeyan , faktor utama dan pertama terjadinya masalah yang di alami oleh TKI adalahbahasa . Kurangnya pemahaman bahasa seperti ini sering menimbulkan missed komunikasi , dan buntut buntutnya adalah kekerasan yang sering kita dengar dan tonton di layar televisi . Kalau ingin membenahi itu semua , point pertamanya adalah pematangan bahasa setempat . Saya yakin dengan bahasa ,tinggal di manapun tidak ada masalah . Di manapun tempatnya , serasa seperti tempat tinggal sendiri dengan catatan bisa berkomunikasi dan di ikuti adaptasi .

Saya menulis seperti itu bukan lantaran saya menguasai bahasa lho , khususnya bahasa internasional bahasa Inggris .Kalau sampeyan bertanya kepada saya seberapa dalam kepenguasaan saya tehadap bahasa Inggris , maka jawaban saya ” blepotan ” , lho kok bisa ? . Semenjak SMA nilai bahasa inggris saya selalu jeblok , itu mungkin karena ketika tes saya tidak bisa menyontek dan kamusnya terlalu tebal untuk di sembunyikan dari mata pengawas ujian .

Terakhir kali saya ngobrol lama menggunakan bahasa Inggris yaitu dengan warga Jerman di bandara internasional Hongkong . Anehnya lagi , sepertinya tidak merasa kesulitan melafalkanya atau mungkin orang bule itu tidak menyadarinya atau jangan jangan tau tapi hanya di simpan dalam hati saja . Tapi yang membuat saya heran , orang bule ini bilang bahasa Inggris saya bagus dan setiap bertemu warga negara Indonesia , hampir seluruhnya mahir berbahasa Inggris . Mungkin yang di katakannya itu terkecuali saya . Kalau memang benar apa yang di katakannya , saya jadi bertanya tanya kepada diri saya sendiri , sebenarnya yang salah nilai raport saya atau orang bule itu ya ? . Faktanya kalau di suruh menuliskan kembali apa yang di bicarakan orang bule itu , saya juga tidak yakin bisa .

Dari kurangnya kepenguasaan bahasa , khususnya bahasa Inggris inilah , saya semakin merasa betapa pentingnyaperanan bahasa . Mengenai manfaatnya saya rasa sampeyan juga pasti sudah tau . Investor dan partner bisnis sampeyan bahasanya bukan bahasa Indonesia kan ? hayooo . Tapi saya sendiri merasa , semakin di pelajari kok semakin susah . Semakin banyak belajar , semakin merasa bodoh , duh payah .