Universitas Terbuka ( UT ) hadir di Korea Selatan

Pendidikan, luar negeri, review Mei 25th, 2011

Sekedar sharing saja , siapa tau saja sampeyan atau kerabat , teman atau mungkin tetangga sampeyan yang menjadi TKI di Korea Selatan berminat dengan program ini . Jauh sebelumnya saya sendiri pernah posting  satu tema dengan ini  TKI menjadi pelajar bea siswa ? , hanya saja  di situ saya tulis untuk mengambil sebuah keputusan mesti ada ritual khusus ( tapa brata )  :D .

Sekarang ini , Universitas Terbuka ( UT ) sudah di buka di Korea Selatan . UT ini terbentuk berkat kerja sama dari UT pusat , KBRI Seoul , PERPIKA bersama dengan seluruh musholla , ICC , dan berbagai paguyuban warga negara Indonesia . UT Korea  mulai di sosialisasikan hari Minggu 12 Desember 2010 di KBRI Seoul sekaligus di lanjutkan dengan pendaftaran calon mahasiswa .Di hari itu tercatat 43 orang calon mahasiswa berdasarkan jurusan pilihanya masing masing .

S1 Manajemen : 24 orang

S1 Ilmu Komunikasi : 9 orang

S1 Sastra Inggris Bidang Minat Penerjemahan : 10 0rang

Mengenai visi dan misi di bukanya UT Korea ini adalah supaya Tenaga Kerja Indonesia di Korea Selatan mendapatkan kesempatan  yang lebih baik dalam menghadapi dunia kerja di masa yang akan datang .

Informasi pendaftaran mahasiswa baru UT Korea berdasarkan daerah masing masing :

  • Guro : Nursito Aji  ( +8210 5820 3030 )
  • Ujongbu : Aziz ( +8210 2367 1806 )
  • Ansan : Hermansyah / Dika ICC ( +8210 5501 4481 )
  • Busan : Wildan Thoyib ( +8210 8916 8724 )
  • Cheonan : Hasrul ( +8210 5539 7728 )
  • Daegu : Ino Sutrisno ( +8210 3948 8118 )
  • Daejon : Dedy Prasetyo ( +8210 3526 8314 )

Waktu pendaftaran sampai dengan 28 Mei 2011 , untuk keterangan lebih lanjut bisa di buka utkorea.wordpress.com dan tinyurl.com/utgenap2011

Informasi ini saya peroleh dari buletin Mitra Nusantara . Dan terus terang saja saya sendiri juga baru mengantongi  informasi ini beberapa hari yang lalu . Seandainya tidak mendapat tugas mengisi di salah satu kolom buletin ini , mungkin saya tidak tau sama sekali bahkan tidak bakalan posting ini . Saya rasa masih banyak yang belum mengetahui informasi ( di bukanya UT Korea ) ini , khususnya di kalangan TKI . Itu alasan kenapa saya menulis kembali informasi ini di Blog Catatan

Sisi lain korea selatan

Ekonomi, aspirasi, luar negeri Mei 10th, 2011

” Etos kerja orang Jepang adalah 5 kali lipat dari etos kerja orang Indonesia , sedangkan etos kerja penduduk Korea Selatan adalah 3 kali lipat dari etos kerja penduduk Jepang . Kesimpulanya , untuk bisa seperti Korea Selatan yang sekarang ini , penduduk Indonesia mesti meningkatkan etos kerjanya 15 kali lipat dari etos kerja saat ini ” . Kurang lebih seperti itu kata teman saya , secara pastinya saya sendiri masih belum yakin . Salah satu stasiun televisi swasta Indonesia juga pernah memberitakan bahwa Korea Selatan merupakan negara tercanggih kedua di bidang teknologi dan sarana informatika . Tidak hanya itu , saya juga pernah membaca di berita online yang menuliskan bahwa pendapatan perkapita penduduk korea selatan adalah kisaran 30 juta rupiah perbulanya . Ironisnya , di negeri yang penuh prestasi seperti itu masih banyak juga adanya pemandangan pengemis dan gelandangan .

Sedikit berbeda dengan pengemis dan gelandangan di Indonesia . Di Indonesia mereka ada mungkin karena memang minimnya lapangan pekerjaan  dan itu sebagai  ” pekerjaan ” . Pakaian yang di kenakan kucel dan kotor . Merata disegala umur , dari anak anak hingga manula . Keberadaanya selalu di kejar kejar petugas satpol PP . Sementara di sini di Korea Selatan mereka ada karena malasnya mereka bekerja , bahkan tidak jarang mereka ” ngetamp ” di tempat selebaran lowongan kerja . Pakaian ? bersepatu , lumayan rapi , sesekali berkacamata hitam . Tidak jarang bermodalkan alat musik untuk sekedar menghibur ” pengiba ” . Selama di sini saya belum pernah menemukan pengemis dan gelandangan berusia muda atau anak anak . Semua dari yang saya temui , mereka adalah berusia lanjut . Di manapaun mereka berada , mereka tanpa ada rasa takut di jaring petugas ketertiban . Hanya saja di beberapa tempat keramaian ada tulisan himbauan untuk tidak memberi uang kepada mereka .

Saya sendiri punya penilaian kurang mengenakkan terhadap pengemis dan gelandangan di sini  . Sudah 2 kali saya memergoki pengemis yang paginya mengemis dan malamnya mabuk mabukkan . Bahkan pada pengalaman pertama saya langsung kena batunya . Kepala saya pernah di pukuli seorang pemabuk tua di pinggiran toko . Dengan nada ” sok pinter ” dia bercerita jalan jalan sukses pengusaha Korea Selatan . Berlagak seperti pahlawan ia katakan kalau kami ( tenaga kerja asing ) mesti berterima kasih kepadanya karena mengurangi angka kemiskinan di negara kami . Anehnya , minggu paginya ia mengemis di stasiun kereta bawah tanah . Saya ingat betul wajah itu , dan tidak akan melupakanya .

Pengalaman kedua di stasiun yang berbeda . Baru pagi harinya memberi seadanya kepada pengemis , sore harinya langsung di kejutkan oleh suara lantang marah marah tidak karuan , ngomel sana sini tidak ada arti , tangan sebelah memegang botol minuman keras . Dalam hati saya mengatakan ” bukankah itu pengemis yang tadi pagi ” . Aneh , dan bener bener aneh . Dari kejadian ini , saya tekadkan untuk sedikit mengamati kegiatan mereka dan lingkungan sekitarnya . Tidak jauh berbeda dengan Indonesia ternyata , di sini sasaran mereka adalah orang asing ( tenaga kerja asing ) yang kurang begitu mengenali mereka . Sementara warga Korea Selatan sendiri , sedikit sekali ( hampir tidak pernah ) yang memberikan iba kepada pengemis ini .

Kalau ingin tau seperti apa kegiatan mereka ( pengemis dan gelandangan ) , coba pagi pagi sampeyan datang ke stasiun kereta bawah tanah setempat dan langsung menuju halaman belakang . Di situ sampeyan akan di kejutkan pemandangan sisi lain dari Korea Selatan . Bagaimana mereka menikmati sisa hidup mereka , dan bagaimana mereka menutupi ” kebutuhanya ” . Dengan kata lain , pengemis tidak hanya di temukan di Indonesia saja . Di negara maju yang seperti ini , pengemis dan gelandangan juga tumbuh subur . Berbeda sekali dengan China , kalau sampeyan ke China coba sampeyan amati pernahkan sampeyan menemukan pengemis ??

Saya di sini hanya menuliskan apa adanya saja , tidak saya tutup tutupi dan juga tidak saya lebih lebihkan . Secara kebetulan yang saya lihat di sini seperti ini . Lain waktu kalau saya menemukan hal hal yang baik , maka akan saya tulis ” baik ” . Teman saya sendiri bilang , kalau saya terlalu banyak mengurusi hal hal yang tidak penting , tidak ada untungnya di kepala dan di masa depan . Dan saya tidak tahu , apakah tulisan seperti ini terasa penting dan bermanfaat bagi sampeyan .

TKI juga perlu management

luar negeri April 27th, 2011

Setidaknya dari pada ngontel becak di Indonesia , mungkin sedikit lebih baik menjadi TKI . Tidak perlu bermain dollar-sign-clock_x172440061petak umpet dengan petugas satpol PP dan gaji yang di terima juga tidak berdasarkan untung untungan . Meskipun sebenarnya kalau di kalkulasikan lebih lanjut perbedaanya juga tidaklah jauh . Jadi jangan sampeyan bayangkan perbandinganya dengan pegawai negeri , terlalu jauhlah .

Yang perlu di garis bawahi di sini , sifat menjadi TKI adalah sementara , hanya tenaga kontrak semata , bukan sampai jenjang pensiun layaknya pegawai negeri . Masa setelah habis kontrak menjadi TKI sangat perlu di pikirkan dengan matang . Seorang TKI sangat di anjurkan bisa memanagement keuangan mereka selama menjadi perantau .

Hanya saja , tidak sedikit juga TKI yang bersifat glamor . Merasa apa apa bisa di jangkau , sampai sampai saya sendiri malah susah membedakan yang mana penduduk asli dan yang mana pendatang . Gaya hidup yang tidak sewajarnya seorang TKI kerap mencolok kedua mata saya . Mungkin sampeyan tidak percaya kalau seorang TKI mengendarai ( membeli ) mobil sebagai alat transportasi sehari harinya , pakaian bermerk menengah ke atas , tinggal di apartemen mewah , dan makanan tinggal pesan di antar . Saya sampai tidak habis pikir berapa gaji mereka perbulanya ? .

Kalau memang mereka tanpa pekerjaan sampingan seperti jasa pengiriman uang , jual pulsa , jualan online , menjadi tenaga arbaitan di waktu libur etc lantas apa pekerjaan mereka di sini ?. Entahlah , Di luar dari itu semua , itu sepenuhnya hak mereka . Duit duit mereka sendiri , tidak ada sangkutanya dengan saya .

Saya hanya berpikir , kalau hanya ingin hidup senang senang seperti itu kenapa juga mesti jauh jauh ke luar negeri ? . Di negeri sendiri kan malah enak , bisa dekat dengan keluarga ( emangnya nyari kerja gampang ? ) . Saya sendiri sangat takut membanggakan status TKI pada diri saya sendiri . Gaji tidaklah beda jauh dengan kerja di rumah , dan kesan di mata tetangga melimpah duit , padahal kenyataanya ? ( sawang sinawang ) Lalu apa yang mesti di banggakan ? Dan semua itu di lakukan dengan jangka pendek . Lantas apa yang akan di kerjakan setelahnya ? Kalau hal ini tidak di pikirkan masak masak oleh TKI khususnya saya sendiri , maka hanya bisa mengucapkan salam kenal saja dengan duit , tanpa memilikinya . Capeknya dapat , duit entah kemana .

TKI menjadi pelajar bea siswa ?

Kesempatan Kerja, luar negeri Januari 6th, 2011

Terinspirasi oleh obrolan singkat dengan sahabat bloger husin via facebook dan saya pikir tidak ada salahnya menuliskannya di sini .

Huda :  hahay ,… salam kenal ya sin ha ha ha

Husin : btw , u di korea ..beasiswa kuliah atau memang kerja ya huda…?

Huda : Ha ha TKI sin ,… sama dg TKI pada umumnya ^_^

Husin : sekalian kuliah aja disana cari beasiswa huda..?

Huda : oh susah sin ,… dulu rencananya mmg gitu , eh setelah sampe sini ternyata g semudah membalikkan telapak tangan ,… mesti ngurus visa lg n pulang k indonesia dulu , g bs rangkap .

Tapi apakah benar seorang TKI seperti saya bisa menjadi pelajar atau bahkan pelajar beasiswa ? . Bisa , hanya saja seperti yang saya katakan kepada husin ,  “tidak semudah membalikkan telapak tangan “. Berdasarkan informasi yang saya kantongi , saya ada 2 alternatif untuk mendapatkan status pelajar selagi masih bekerja sebagai TKI di Korea Selatan .

Pertama , mengikuti program lembaga pendidikan yang berstatus di akui .

  • Program ini gratis , tanpa di pungut biaya seperserpun  . Biasanya di biayai oleh misioneris  dan shelter ( nama / lembaga tempat pengaduan warga negara asing ) .
  • Materi yang di sampaikan : bahasa inggris dan bahasa korea , sastra korea dan kebudayaan korea ( guide ).
  • Jam belajar : hari libur ( sabtu dan minggu ) kurang lebih 4 jam per harinya.
  • Setelah lulus akan di berikan sertifikat . Dengan sertifkat ini , cukup bisa mengantar kita menjadi pengajar di yayasan atau universitas di Indonesia . ( itu mungkin kalau rektornya saya )

Kekurangannya , menurut saya program ini ” berbau ” penyebaran agama tertentu . Jadi kalau mengikuti program ini , pondasinya mesti kuat . Saya sendiri juga belum seutuhnya yakin  apakah program semacam ini murni di sebut kegiatan belajar mengajar atau ada unsur  lain di baliknya . Kalau tertarik  cukup mencari informasinya di kantor shelter terdekat . Biasanya akan ada selebaran yang di bagi bagikan pada saat pembukaan kelas baru . Kalau tidak salah hanya berlaku untuk visa E9 .

Kedua , mengikuti ujian bea siswa . Informasi ujian ini bisa di dapatkan di lembaga pendidikan tertentu dan shelter . Kita cukup mengerjakan soal ujian yang di berikan  . Kalau lulus dan lolos , berarti beasiswa sudah di tangan dan mesti pulang ke tanah air terlebih dahulu untuk mengurus visa . Proses semuanya di mulai dari awal . Merubah visa yang dulunya visa kerja menjadi menjadi visa pelajar , dan mesti mengurus tetek bengek lainnya . Hal semacam inilah yang saya tidak suka , karena visa tidak bisa langsung di alihkan dari visa kerja menjadi visa pelajar dan mesti pulang  ke tanah air . Hanya saja , keuntungan dari program ini  adalah kegiatan belajar mengajarnya di universitas dan  tentunya tanpa embel embel misi penyebaran agama . Kalau memang TKI seperti saya ini ingin mengambil program ini , harus tapa brata terlebih dahulu untuk mengambil keputusan . Apakah kerja atau kuliah .

Sekarang bagaimana kalau seorang pelajar ingin menjadi tenaga kerja seperti saya ini ? . Sangat mudah sekali , cukup berhenti dari kegiatan belajarnya dan mencari pekerjaan yang membutuhkan tenaga ilegal . Lho kok tenaga ilegal ? ya , spontan saja status tidak lagi pelajar , melainkan tenaga kerja ilegal dan selamat menikmati ” permainan petak umpet “ dengan polisi imigrasi . Hitung hitung , menjadi tenaga kerja ilegal juga merupakan pelajaran  yang tidak di dapatkan di bangku kuliah dan bahan skripsi . Dan lagi , ” permainan petak umpet ” ini akan menguji bagaimana melihat dan memanfaatkan  peluang . Tapi kalau belum apa apa sudah ketangkap petugas imigrasi , ya jangan salah . Itu sudah menjadi resikonya . Resiko tentunya di tanggung penumpang .

By language we are master the world

aspirasi, luar negeri Januari 1st, 2011

By language we are master the world ” , kalimat ini pertama kali saya baca di tempat saya kursus bahasa inggris . Kalau di  artikan berdasarkan pentium 2 saya , kurang lebihnya seperti ini ” dengan bahasa kita adalah penguasa dunia ” . Benar tidaknya kalimat itu , saya sendiri kurang mengerti . Kalimat ini begitu jelas terpampang di atas pintu masuk tempat kursus ” multi language excellent course ” ( bukan nama sebenarnya ) . Lewat multi language excellent course ini , saya mencoba membuktikan kebenaran arti dari kalimat  “by language we are master the world ” itu. Yayasan ini juga yang memberi kesempatan saya  untuk menjajal bea siswa ke luar negeri . Bisa di katakan juga yayasan inilah yang menjembatani  saya sampai negeri tirai bambu China , Taiwan ROC ( Republik of china ) , dan yang terakhir negeri gingseng Korea Selatan  ini . Dari pengalaman  hidup di luar negeri seperti ini ,saya merasa  kebenaran arti kalimat by language we are master the world semakin terbukti .

Pernahkah terpikirkan di benak sampeyan akan seperti apa jadinya hidup di negara atau tempat tertentu tanpa penguasaan bahasa setempat ?. Kalau tidak menguasai , setidaknya mengerti apa yang di maksudkan lawan bicara . Bahasa di sini berfungsi sebagai alat komunikasi sehari hari , sebagai jembatan yang menghubungkan dan mengungkap apa yang di rasa dan di pikirkan . Bagaimana bisa sejalan kalau tanpa adanya komunikasi . Sesuatunya akan sulit di searahkan tanpa yang satu ini , bahasa .  Saya rasa tidak hanya di luar negeri saja , pemahaman bahasa juga sangat di perlukan di daerah daerah yang memiliki perbedaan bahasa .

Entah percaya atau tidak itu terserah sampeyan , faktor utama dan pertama terjadinya masalah yang di alami oleh TKI adalah bahasa . Kurangnya pemahaman bahasa seperti ini sering menimbulkan missed komunikasi , dan buntut buntutnya adalah kekerasan yang sering kita dengar dan tonton di layar televisi . Kalau ingin membenahi itu semua , point pertamanya adalah pematangan bahasa  setempat . Saya yakin dengan bahasa ,tinggal di manapun tidak ada masalah . Di manapun tempatnya , serasa seperti tempat tinggal sendiri dengan catatan bisa berkomunikasi dan di ikuti adaptasi .

Saya menulis seperti itu bukan lantaran saya menguasai bahasa lho , khususnya bahasa internasional bahasa Inggris .Kalau sampeyan bertanya kepada saya seberapa dalam kepenguasaan saya tehadap bahasa Inggris , maka jawaban saya ” blepotan ” , lho kok bisa ? . Semenjak SMA nilai bahasa inggris saya selalu  jeblok , itu mungkin karena ketika tes saya tidak bisa menyontek dan kamusnya terlalu tebal untuk di sembunyikan dari mata pengawas ujian .

Terakhir kali saya ngobrol lama menggunakan bahasa Inggris yaitu dengan warga Jerman di bandara internasional Hongkong . Anehnya lagi , sepertinya tidak merasa kesulitan melafalkanya atau mungkin orang bule itu tidak menyadarinya atau jangan jangan tau tapi hanya di simpan dalam hati saja . Tapi yang membuat saya heran , orang bule ini bilang bahasa Inggris saya bagus dan setiap bertemu warga negara Indonesia , hampir seluruhnya mahir berbahasa Inggris . Mungkin yang di katakannya itu terkecuali saya . Kalau memang benar apa yang di katakannya , saya jadi bertanya tanya kepada diri saya sendiri , sebenarnya yang salah nilai raport saya atau orang bule itu ya ? . Faktanya kalau di suruh menuliskan kembali apa yang di bicarakan orang bule itu , saya juga tidak yakin bisa .

Dari kurangnya kepenguasaan bahasa , khususnya bahasa Inggris inilah , saya semakin merasa betapa pentingnya peranan bahasa . Mengenai manfaatnya saya rasa sampeyan juga pasti sudah tau . Investor dan partner bisnis sampeyan bahasanya bukan bahasa Indonesia kan ? hayooo  . Tapi saya sendiri merasa , semakin di pelajari kok semakin susah . Semakin banyak belajar , semakin merasa bodoh , duh payah .

Matahari tak mampu menghangatkan tubuhku

Religi, Renungan, luar negeri Desember 25th, 2010

Hari ini matahari tidak tanggung tanggung menampakkan dirinya , begitu juga dengan sinarnya ” full ” seperti tak bersisa . Teriknya mampu menggosongkan kulit putih saya kalau sampai berlama lama di bawahnya . Saya sendiri tidak bisa bertahan lama di luaran  . Mungkin mentok cuman 10 menit . Maaf , bukannya di sini saya takut gosong atau apalah tapi terik matahari kali ini kurang mampu menghangatkan tubuh saya di musim dingin , khususnya hari ini .

Tepat di hari raya natal tahun 2010 ini , suhu di sini mencapai - 19 derajat celcius . Meskipun di hari yang terang benderang seperti ini , saya masih merasa tersiksa berada di luar ruangan . Jari jari tangan , ujung kuping, hidung , bibir  serasa cepat sekali kedinginan dan itu benar benar sakit . Untuk bepergian keluar , saya mesti berpakaian layaknya robot . Contohnya saja sekarang , baju yang saya pakai 1 kaos lengan pendek , 1 kaos tebal lengan panjang , 1 jaket kulit dan lagi 1 jaket tebal yang khusus di pakai di musim dingin . Belum lagi untuk celana , mesti double . Dengan memakai baju yang seperti ini saja  masih merasa kaku kedinginan . Saya tidak habis pikir bagaimana rasanya mereka yang bepergian hanya dengan baju seadanya , khususnya perempuan yang lebih mementingkan fashion atau style dan bawahnya hanya mengenakan stocking . Peduli setan dengan yang namanya style kalau musim dingin sudah tiba . Faktanya , musim dingin tidak pernah bisa di ajak kompromi dengan style stylan seperti itu . Kalau sudah mengigil kedinginan , siapa juga yang merasakanya .

Semalam saya sempat melakukan uji coba seberapa cepat suhu ini mampu membekukan air . Dengan menaruh segelas air 50 ml di luaran dan saya meninggalkanya beberapa menit untuk mandi sejenak . Fantastis , hanya dengan waktu 12 menit saja  setengah dari air itu membeku di tempatnya . Sama sekali tidak terbayangkan di benak saya kalau itu adalah tubuh saya sendiri .

Di siang hari ini jam 2 saya coba jalan jalan untuk menghilangkan penat di pikiran . Heran , dengan sinar matahari yang begini teriknya , benar benar cerah , tapi hanya selama 5 menit saya berjalan kaki , jari jari dan kuping terasa sakitnya minta ampun karena kedinginan . Saya salut dengan kekuasaan Tuhan , mampu membuat ruangan seluas ini dengan kesejukan melebihi ruangan ber AC atau melebihi dinginnya freezer kulkas malahan . Tuhan memang hebat , sehebat hebatnya lah , benar benar mutlak berkuasa penuh atas semua ini . Saya yakin seyakin yakinnya kalau bukan Tuhan , tidak ada mahluk lain yang mampu membuat daerah seluas ini sampai sedingin ini . Apalagi cuman menghukum segelintir orang seperti saya , sama sekali tidak ada kesulitan bagiNYA . Tuhan kalau sudah berkehendak tidak menunggu kapan dan siapa , termasuk dinginnya hari ini .


Biaya kebutuhan hidup di korea

Ekonomi, Wisata, luar negeri Desember 20th, 2010

Setiap minggunya , e-mail dan inbox facebook saya tidak pernah luput dengan  pertanyaan mengenai pariwisata korea , harga tiket pesawat Indonesia - Korea PP , biaya menginap di hotel , biaya kebutuhan hidup di korea , gaya hidup orang korea dan masih banyak lagi pertanyaan pertanyaan lain mengenai korea . Yang menyangkut lokasi wisata korea , biaya tiket Indonesia - Korea PP , biaya menginap di hotel , dan sarana transportasi di korea , saya sudah sedikit menuliskannya di wisata korea seoul dan wisata korea seoul 2 .

Kali ini saya akan mengulas sedikit mengenai biaya kebutuhan hidup sehari hari di korea . Di mulai dari tempat tinggal , biaya listrik , biaya air , dan biaya kebutuhan pangan yang saya hitung berdasarkan standar menengah kebawah . Jadi seandainya saja  ada pertanyaan lagi tentang hal ini , mungkin saya akan menjawabnya cukup dengan copy paste link postingan ini .

Untuk yang pertama , tempat tinggal . Mayoritas penduduk korea bertempat tinggal di apartemen . Harga sewa kontrakan bervariasi berdasarkan besar kecilnya uang jaminan . Semakin besar uang jaminan , pembayaran sewa semakin murah . Begitu juga sebaliknya . Untuk sebuah apartemen berfasilitas 1 kamar tidur ( 3 x 3 M ) ,1  ruang dapur ( 2 x 3 M ) , 1 ruang tengah ( 2 x 4 M ) , dan 1 kamar mandi ( 2 x 2 M ) harga sewa di patok kurang lebih 150 ribu won / bulan . Kalau di rupiahkan dengan nilai kurs hari ini ( 1 won = 7,83 rupiah ) , maka 150 .000 x 7,83 = 1. 174 .500 rupiah .

kedua , biaya air dan listrik . Untuk beban ini , antara musim panas dan musim dingin ada sedikit perbedaan . Biaya air dan listrik untuk musim panas sekitar 130 ribu won , musim dingin 150 ribu won . Alasannya kenapa berbeda , karena ketika musim dingin ada pengluaran tambahan berupa gas atau boiler yang berfungsi sebagai penghangat ruangan . Kalau saya ambil biaya rata ratanya menjadi 140 ribu won / bulan . Untuk nilai rupiahnya 140.000 x 7,83 = 1. 096.200 rupiah .

Dan yang ketiga , biaya makanan sehari hari . Di sini saya mengambil harga sebuah masakan yang paling murah saja , yaitu sekitar 2 500 won . Untuk rata rata sebuah masakan di tarif 3 500 won dan menengah ke atas 5 000 - 8 000 won , sedangkan untuk sebuah masakan Indonesia di warung Indonesia biasanya di tarif 6000 won . Kalau mengambil harga termurah yakni 2 500 won , sehari 3 kali menjadi 7 500 won sehari . Atau mungkin lebih berhemat sedikit , katakanlah pagi sarapan hanya dengan roti seharga 1 000 won maka 5 000 + 1 000 = 6 000 won perhari . Jadi untuk biaya makan selama 1 bulan = 6 000 x 30 = 180 . 000 won , dalam bentuk rupiah 180.000 x 7,83 = 1. 409 . 400 rupiah

Jadi jumlah total untuk biaya tempat tinggal , biaya air dan listrik , dan biaya makan sehari hari menjadi 1. 174 . 500 + 1. 096. 200 + 1. 409 . 400 = 3 . 680 . 100 rupiah . Kesimpulannya untuk tinggal di korea , setidaknya berpenghasilan minimal 3 . 680 . 100 rupiah / bulannya . Jumlah itu saya ambil dengan dasar minimal untuk daerah hwaseong . Kalau  seorang pelajar ( beasiswa / tukar pelajar ) hanya dengan uang saku US 80 dollar / bulannya , saya rasa itu kurang jauh dari cukup , terkecuali asrama sudah di sediakan oleh pemerintah atau yayasan . Sedangkan yang urusanya untuk berbisnis , mungkin tidak ada masalah karena saya yakin hasil yang di dapatkan tentunya lebih besar dari jumlah itu . Lalu bagaimana dengan yang wisata ? mungkin itu tergantung berapa lama berwisata di korea atau tinggal di korea .

Itu sedikit gambaran mengenai biaya kebutuhan pokok di korea sebagai jawaban dari pertanyaan pertanyaan sahabat selama ini .