Seoul Menjadi Kota Islam

Religi September 25th, 2009

halaman-samping-kbri-seoul1

Seoul ( Korea ) merayakan Idul Fitri

Tanggal 20 September 2009 atau 1 Syawal 1430 H kemarin merupakan momentum yang sangat berarti, hal ini tidak hanya terjadi di tanah air Indonesia tetapi di seluruh kawasan dunia, termasuk korea yang mayoritas warga negaranya adalah tidak beragama. Hari Raya Idul Fitri yang bertepatan pada hari minggu kemarin mampu merubah secara drastis ibu kota Negara dengan 70 % lebih penduduknya non beragama ini,menjadi kota islam. Hampir di setiap jalur yang menuju masjid ataupun kedutaan Negara di penuhi warga asing dengan mengenakan haji ( peci ) sambil mengumandangkan takbir, terutama di daerah I dae won dan de bang.Untuk imigran muslim yang berasal dari Bangladesh , Pakistan, india, Uzbekistan ,Turki, mesir dan lain lainnya lebih memilih sholat id di masjid besar seoul I dae won ( seoul ), Sedangkan warga muslim Indonesia lebih cenderung memilih sholat id di KBRI dae bang ( seoul ).Di dae bang ( KBRI Seoul ) sendiri sempat memancing banyak perhatian warga korea setempat,karena jumlah jamaah untuk sholat id tahun ini meningkat jauh dari tahun sebelumnya. Hal ini mungkin di karenakan idul fitri tahun ini bertepatan pada hari minggu yang kemungkinan besar hampir setiap perusahaan libur, sehingga warga muslim indonesianya bisa merayakan hari raya idul fitri di KBRI seoul.Dari tafsiran saya pribadi, jumlah jamaah di KBRI seoul mencapai kisaran 6 ribu sampai 7 ribu jamaah dari 32 ribu TKI di korea, hal ini saya lihat dari penuhnya aula KBRI , lantai 2 dan 3, beserta seluruh halaman KBRI yang luasnya sekitar 50×70 meter, di tambah lagi jamaah yang berada di taman di luar gedung KBRI. Dan yang paling berkesan bagi saya pribadi , dari keadaan seperti ini bisa membuat jalan raya sekitar macet, bukan karena kami yang yang tidak tertib dalam lalu lintas ataupun sebab lainnya,tetapi karena mereka warga korea yang penasaran dan ingin melihat lebih dekat dengan seksama kegiatan kami, bahkan tidak sedikit dari mereka yang merekam atau mengambil gambar kegiatan kami, hal inilah yang memaksa mereka berhenti sejenak dan membuat macet. Kondisi seperti ini juga mengundang perhatian salah satu stasiun televisi korea KBS World yang kantor pusatnya terletak di seberang KBRI. Memang tidaklah heran kalau keadaan seperti ini sampai mengundang perhatian warga korea setempat, karena selama perjalanan saya sendiri menuju seoul, hampir setiap kereta dengan tujuan kota seoul penuh dengan warga berpeci,di setiap stasiun transitan menuju seoul selalu berdesakan warga berpeci, setiap stasiun kota seoul terjadi antrian panjang, bahkan dari perjalanan kaki dari stasiun ke gedung KBRI saya dan rekan rekan melewati sekitar 700 orang, mereka dengan mengumandangkan takbir sambil berjalan menuju gedung KBRI, namun hanya dengan suara lirih.

Read the rest of this entry »

Kenangan Ramadhan

Religi Agustus 22nd, 2009

ramadhan1

Rasa rasanya waktu telah begitu cepat berlalu, tanpa bisa di tahan lagi kehadirannya sekarang sudah memasuki hari pertama di bulan Ramadhan, bulan yang penuh Rahmat, Hidayah dan SyafaatNya. Bulan Ramadhan sendiri memiliki banyak arti dan kenangan bagiku, apa lagi setelah 5 kali bulan Ramadhan posisi tidak di rumah, rasa rasanya semakin melekat saja kenangan itu. Bulan yang tanpa kurang kurang aktifitas, dari pagi hingga menjelang subuh seperti tidak ada waktu yang tersiakan. Bilapun pergi, mata ini selalu di perlihatkan aktifitas orang atau santri yang mengaji, telinga selalu diperdengarkan dengan ceramahan ceramahan pak Ustadz atau Kyai lewat pengeras suara, hati ini terasa sejuk meski hanya melihat dan mendengar mereka. Terasa seperti setiap langkah hanya menuju kebajikan.

Satu hal lagi yang selalu membuat ku senang menyambut bulan Ramadhan selain hal hal di atas, biasanya kalau bulan Ramadhan teman temanku yang mondok di luar, memutuskan untuk ngaji di rumah ( Demak ), dan di situ aku bisa bertemu, berkumpul bersama mereka, mengaji di pondok bersama mereka. Kalau sudah bersama mereka, berjalan kaki 1,5 KM menuju ponpes pun tidak terasa dan enggan rasanya naik sepeda atau motor, dengan berjalan kaki kami bisa menceritakan pengalaman dari pondok masing masing dan Tanya jawab mengenai materi yang di sampaikan di pondok kami, Waktu seperti itu bagiku sangatlah istimewa, karna hanya di bulan Ramadhan lah aku bisa puas bersama mereka. Selain di bulan Ramadhan, aku seperti hanya sendirian di rumah. Di kampungku anak anak sebayaku lebih memilih mondok di luar dan tidak sekolah SLTA,bisa di katakan hanya aku saja sekampungku yang melanjutkan ke SLTA dan menginap di Assalafiyah. Mereka bukan berarti lebih mementingkan agama dari pada pengetahuan umum, tapi karena alasan ekonomilah mereka tidak melanjutkan sekolah sampai SLTA.Yach.. lagi lagi ekonomi, duh.

Read the rest of this entry »