Jabatan itu beban !

Politik, Religi, aspirasi Nopember 5th, 2010

Sejauh ini yang sering saya lihat mayoritas orang lebih merebutkan yang satu ini ” jabatan “. Tidak sedikit dari mereka berlomba lomba untuk meraihnya dengan hampir mengorbankan segalanya , uang ratusan juta hingga milyaran rupiah , kepercayaan , keluarga , perasaan , atau bahkan iman sekalipun . Padahal jabatan ini kalau tidak di perankan oleh orang yang tepat , bisa menjadi bom waktu bagi dirinya sendiri dan kapanpun bisa saja meledak menghancurkan dirinya beserta orang terdekatnya .

Saya menggambarkan jabatan di sini tidak jauh berbeda dengan kekuasaan yang memiliki pengaruh besar dalam elemen masyarakat . Jadi , saya menilai sudah sewajarnya hal ini menjadi ajang rebutan . Hanya saja kalau di telaah lebih lanjut , kenyataan ini sangat bertolak belakang pada masa kepemimpinan jaman dulu . Ketika Umar di tunjuk sebagai khalifah , beliau berusaha keras menolaknya . Ketika rakyat memaksanya , Ia hanya bisa menerimanya dengan ikhlas dan ridlo , tetapi Umar menganggap hal itu adalah musibah besar bagi dirinya . Bagimana tidak musibah besar ?, bilamana nanti pada masa kepemimpinanya tak mampu melayani , mengayomi , dan melindungi rakyatnya , maka Umar bersiap siap menerima tuntutan jutaan rakyatnya di dunia dan di hadapan pengadilan Allah pada hari kiamat kelak . Ia juga menyadari betul sabda Nabi SAW ” Sesungguhnya kekuasaan itu amanah . Pada hari kiamat nanti ia akan berubah menjadi kehinaan dan penyesalan , kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan haq dan menunaikan apa yang di amanahkan di dalamnya ( HR . Muslim ) ** di kutip dari Halaqoh Online **

Saya sendiri sangat was was dan enggan berdekatan dengan jabatan . Di samping merasa belum cukup mampu , saya pikir jabatan membuat tidak nyaman dalam melakukan aktifitas setiap harinya . Bayangkan saja seandainya saya adalah seorang bupati , kemana mana tidak bisa bebas . Mau ini dan itu tidak searah dengan keinginan hati . Atau mungkin kepala desa ?, sampeyan pasti mentertawakan kalau mendapati seorang kepala desa menjadi tukang ojek , motong rumput untuk kambing kembalaanya . Padahal kita juga tidak tahu seberapa besar kebutuhanya , tuntutan gaya hidupnya sebagai kepala desa . Atau mungkin melihat seorang kepala desa berbuat nyleneh , senonoh , pasti semua ini membuat geger seluruh desa . Sudah jelas ini sebagai beban .

kalau di beri kesempatan memilih , saya akan memilih posisi sebagai orang biasa dengan gaji luar biasa dan lepas dari tanggung jawab sebagai pemimpin . Setiap bulannya di gaji 28 juta rupiah , kegiatan hanya bermalas malasan , berbuat ini dan itu tidak menjadi sorotan publik . Pertanyaanya siapa juga yang mau memberi kesempatan memilih seperti itu ? siapa juga yang mau memberi gaji segitu dengan hanya bermalas malasan ? . Nah , kenyataan ini yang menghiasi panggung politik di negara kita , bayarannya mau namun kerja dan tanggung jawabpun enggan ah . Mereka lupa kalau menyandang jabatanya , dan yang sangat perlu di ketahui kelak jabatannya itu menjadi bumerang yang siap menerkam jika tidak melaksanakan amanah dalam jabatannya itu .

Selama ini saya merasa nyaman dengan jabatan yang saya sandang , ” Wong cilik dan pentium 2 “ . Terus terang saja kedua gelar itu bukan saya sendiri yang memberikannya , dan justru saya merasa gelar yang seperti itu menjadi perisai bagi saya . Serasa lebih bebas dalam menyesuaikan pergaulan sehari hari , berpakaian , dan menyampaikan aspirasi saya . Kalau saja ada perkataan dan cara berpakaian saya yang nyleneh , ya maklum saja kan sebagai wong cilik . Dan kalaupun saya lamban dalam menangani permasalahan dan kurang bermutu dalam menyampaikan aspirasi , ya maklum namanya juga pentium 2 . Saya menilai dengan gelar yang seperti itu , justru lebih tidak terikat dengan beban ketimbang jabatan yang tinggi . Tapi jujur saja , kalau wong cilik ini di beri bayaran 28 / bulan dan kapasitas core duo , saya sama sekali tidak menolaknya , lha siapa toh yang mau memberi itu ?

Seoul Menjadi Kota Islam

Religi September 25th, 2009

halaman-samping-kbri-seoul1

Seoul ( Korea ) merayakan Idul Fitri

Tanggal 20 September 2009 atau 1 Syawal 1430 H kemarin merupakan momentum yang sangat berarti, hal ini tidak hanya terjadi di tanah air Indonesia tetapi di seluruh kawasan dunia, termasuk korea yang mayoritas warga negaranya adalah tidak beragama. Hari Raya Idul Fitri yang bertepatan pada hari minggu kemarin mampu merubah secara drastis ibu kota Negara dengan 70 % lebih penduduknya non beragama ini,menjadi kota islam. Hampir di setiap jalur yang menuju masjid ataupun kedutaan Negara di penuhi warga asing dengan mengenakan haji ( peci ) sambil mengumandangkan takbir, terutama di daerah I dae won dan de bang.Untuk imigran muslim yang berasal dari Bangladesh , Pakistan, india, Uzbekistan ,Turki, mesir dan lain lainnya lebih memilih sholat id di masjid besar seoul I dae won ( seoul ), Sedangkan warga muslim Indonesia lebih cenderung memilih sholat id di KBRI dae bang ( seoul ).Di dae bang ( KBRI Seoul ) sendiri sempat memancing banyak perhatian warga korea setempat,karena jumlah jamaah untuk sholat id tahun ini meningkat jauh dari tahun sebelumnya. Hal ini mungkin di karenakan idul fitri tahun ini bertepatan pada hari minggu yang kemungkinan besar hampir setiap perusahaan libur, sehingga warga muslim indonesianya bisa merayakan hari raya idul fitri di KBRI seoul.Dari tafsiran saya pribadi, jumlah jamaah di KBRI seoul mencapai kisaran 6 ribu sampai 7 ribu jamaah dari 32 ribu TKI di korea, hal ini saya lihat dari penuhnya aula KBRI , lantai 2 dan 3, beserta seluruh halaman KBRI yang luasnya sekitar 50×70 meter, di tambah lagi jamaah yang berada di taman di luar gedung KBRI. Dan yang paling berkesan bagi saya pribadi , dari keadaan seperti ini bisa membuat jalan raya sekitar macet, bukan karena kami yang yang tidak tertib dalam lalu lintas ataupun sebab lainnya,tetapi karena mereka warga korea yang penasaran dan ingin melihat lebih dekat dengan seksama kegiatan kami, bahkan tidak sedikit dari mereka yang merekam atau mengambil gambar kegiatan kami, hal inilah yang memaksa mereka berhenti sejenak dan membuat macet. Kondisi seperti ini juga mengundang perhatian salah satu stasiun televisi korea KBS World yang kantor pusatnya terletak di seberang KBRI. Memang tidaklah heran kalau keadaan seperti ini sampai mengundang perhatian warga korea setempat, karena selama perjalanan saya sendiri menuju seoul, hampir setiap kereta dengan tujuan kota seoul penuh dengan warga berpeci,di setiap stasiun transitan menuju seoul selalu berdesakan warga berpeci, setiap stasiun kota seoul terjadi antrian panjang, bahkan dari perjalanan kaki dari stasiun ke gedung KBRI saya dan rekan rekan melewati sekitar 700 orang, mereka dengan mengumandangkan takbir sambil berjalan menuju gedung KBRI, namun hanya dengan suara lirih.

Read the rest of this entry »